Cerpen: Aku Akan Lulus

Hari beranjak pagi. Sinar rembulan telah tenggelam dengan sempurna, berganti dengan seberkas cahaya mentari yang masih mengintip dengan malu-malu. Bulir-bulir embun pagi di setiap ujung daun mulai berguguran. Suara ayam milik tetangga sekitar riuh terdengar memecah keheningan, menandakan kehidupan hari ini akan segera dimulai.

Seberkas sinar matahari menembus jendela kamar yang terbuka sebagian, Santi memicingkan mata karena silau. Setelah mengucek-ucek matanya ia baru membuka mata itu dan mengubah posisinya menjadi terduduk. Jam menunjukkan pukul 05.30, sepertinya ia tertidur seusai melaksanakan sholat Shubuh tadi pagi. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan menuju ke dapur, tampak ibunya sedang memotong wortel yang terlihat sudah sedikit layu itu.

"Masak nopo Buk?" tanya Santi pada ibunya.

"Iki lho Nduk, mau tumis wortel sama kacang. Eman keburu layu kalau nggak cepet dimasak. Sama goreng ikan" Jawab Bi Minah, ibunya Santi.

"Yowes Buk, Santi rorengin ikannya. " Ujar Santi seraya mengambil ikan mujair dari dalam lemari es.Tangan kecilnya dengan cekatan mulai mengolah mujair itu.

Santi dan Bi Minah pun melanjutkan kegiatan mereka diselingi bercakap-cakap ria khas ibu dan anak, setengah jam kemudian sebakul nasi, semangkuk tumis wortel dan kacang panjang ditambah mujair goreng udah nangkring cantik di meja makan. Menu khas pedesaan yang menggugah selera siapa aja yang melihatnya. Mereka sarapan berempat bersama ayah dan adik Santi. Sehabis menuntaskan sarapan Fian pamit untuk pergi ke sekolah, Pak Danu pergi ke sawah dan Bi Minah pergi ke pasar. Lalu Santi? Ia di rumah sendiri.

"Nanti ngampus Ndhuk?” tanya Bi Minah sebelum berangkat ke pasar.

"Iya Buk, nanti agak siangan." Jawab Santi.

"Yowes ati-ati, pintunya jangan lupa dikunci." Bi Minah mengingatkan putrinya yang pelupa itu.

"Hehe nggih Buk." Jawab Santi sambil nyengir.

Setelah kepergian ayah, ibu dan adiknya dengan tujuan yang berbeda alias nggak searah, Santi segera melanjutkan aktivitasnya yaitu mengerjakan pekerjaan rumah. sedari kecil Santi memang selalu dididik untuk peduli dengan pekerjaan rumah, ia selalu diajak untuk membantu Bi Minah mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari mengelap meja, nyapu, ngepel sampai cuci baju. Jadi nggak heran kalau menginjak SMA Santi sudah bisa menjadi wakil ibunya dalam mengurus rumah. Begitu juga denga Fian, meskipun ia seorang laki-laki, tapi ia tetap dididik hidup mandiri.

Setelah selesai membereskan rumah, Santi memilih untuk langsung mandi. 2 jam lagi ia ada jadwal bimbingan skripsi di kampus, berarti 1 jam lagi Devi pasti jemput. Devi adalah teman sekelas sekaligus sahabat Santi, kos Devi nggak jauh dari rumah Santi. Sebenarnya dulu Bi Minah sudah pernah nawarin Devi buat tinggal di rumahnya aja mengingat Devi adalah sahabat putrinya, tapi Devi menolak dengan alasan ia ingin belajar mandiri. Meski begitu Bi Minah tetap menganggap Devi seperti putrinya sendiri dan Santi pun nggak keberatan sama sekali.

Santi dan Devi sekarang lagi berada di tahap akhir kuliah yaitu proses skripsi. Santi sudah hampir selesai, kemungkinan besar tinggal satu kali bimbingan lagi ia sudah bisa ujian. Sedangkan Devi baru 2 kali bimbingan setelah melakukan seminar proposal. Perbedaan dosen pembimbing cukup berdampak bagi perbedaan kemajuan dalam proses mereka sehingga meskipun memulai bimbingan pertama secara bersamaan tapi pada akhirnya Santi selangkah di depan Devi.

Habis mandi dan siap-siap, jam menunjukkan pukul 08.30, masih tersisa waktu 30 menit lagi sebelum Devi menjemput. Santi memanfaatkan waktunya untuk membuka kembali draft skripsi yang telah disusunnya.ia membaca lagi hasil revisi yang ia selesaikan semalam sebelum nanti dikonsultasikan pada dosen pembimbingnya. 30 menit berlalu, terdengar suara motor matic yang sangat familiar berhenti di depan rumahnya. Tanpa menunggu waktu lagi Santi segera menyambar helm dan masker bergambar tokoh kartun Doraemon kesayangannya. Setelah itu ia pun menghampiri Devi yang sudah menunggunya.

"Gimana San?" tanya Devi dengan wajah cerianya.

"Apanya yang gimana?" Santi balik bertanya.

"Ya udah siap belum buat ACC gimana sih." Jawab Devi.

"Aku kok deg-degan ya Dev. Kira-kira hari ini bisa ACC nggak ya". Ujar Santi.

"Lah, pasti ACC kok. Kan dospem 2 kamu udah dari kemaren bilang cukup sama skripsimu. Sekarang dospem 1 udah ACC juga berati dospem 2 auto tandatangan dong." Devi berceloteh penuh semangat.

"Bismillah, semoga ya. Kamu hari ini bimbingan juga kan?" tanya Santi.

"Nggak, ngaterin kamu aja. Aku bimbingannya besok." Jawab Santi.

"Uluh-uluh so sweetnya nganter aku, hahahaa." Santi usil bercanda.

Ia pun segera naik ke motor Devi, mereka berdua mulai meninggalkan pelataran rumah Sinta menuju kampus. Di tengah perjalanan cuaca yang awalnya begitu cerah mendadak meredup, nggak lama kemudian hujan pun turun tanpa memberikan sinyal gerimis terlebih dahulu. Sinta dan Devi pun kaget, sialnya nggak ada satupun yang membawa jas hujan. Devi memacu motornya lebih cepat untuk mencari tempat berteduh. Beberapa waktu kemudian mereka berhenti di sebuah halte untuk berteduh. Setelah turun dari motor Santi segera memeriksa naskah skripsi di dalam tasnya, untungnya naskahnya baik-baik aja, hujan tiba-tiba datang itu nggak sampai membasahi skripsinya.

20 menit kemudian hujan nggak makin reda tapi malah makin deras. Santi merogoh HPnya untuk melihat jam. Pas buka HP hatinya pun pecah seperti kepingan kaca. Gimana nggak mau berkeping-keping hatinya kalau ternyata ada notif di grup chat bimbingan. Dosen pembimbing mengundur jadwal bimbingannya jadi besok siang. Santi mengantongi lagi HPnya dengan wajah yang pasrah, padahan ia begitu optimis bisa ACC hari ini.

"Kenapa?" tanya Devi.

"Bimbingannya diundur besok." Jawab Santi lemah.

"Astaga, the real prank. Udah hujan-hujanan gini ternyata nggak jadi dong." Ujar Devi.

"Entahlah." Jawab Santi pasrah.

"Yaudah nggak apa-apa., nanti reda kita pulang dulu. Kan cuma diundur besok, besok pasti ACC." Devi menjawab sekaligus memberi semangat pada Sahabatnya itu.

15 menit kemudian hujan pun reda, mereka memutuskan untuk lagsung pulang ke rumah. Lagian baju mereka juga basah kuyup jadi nggak mungkin kalau mau mampir-mampir, yang ada malah malu-maluin. Suasana habis hujan ditambah hembusan angin semakin menambah dingin hawa pagi ini. Kondisi baju yang basah dan keterpa angin benar-benar nggak nyaman dipakai. Devi cepat-cepat melajukan motornya biar cepat sampai rumah Santi dan lanjut pulang ke kosnya.

Sesampainya di rumah Santi langsung mandi dan mencuci pakaian basahnya. Habis mandi ia lanjut buat teh panas untuk mengusir dingin di tubuhnya. Nggak lama kemudian segelas teh panas habis ditenggaknya, tapi tetap aja ia merasa kedingingan. Akhirnya ia lebih memilih buat tidur dan meringkuk di bawah selimut hangatnya. Santi memejamkan mata, 10 menit kemudian dengkuran halus mulai terdengar menandakan Santi udah tertidur dengan pulasnya.

Santi terbangun pukul 13.00, ia keluar kamar dan melihat seisi rumah. Masih kosong, berarti di antara mereka bertiga belum ada yang pulang. Sinta merasa perutnya kembung dan mual, ia kemudian mencari jahe di wadah bumbu yang ada di dapur. Sialnya stok jahe di rumahnya juga habis, ia mendengus kesal. Ia mencoba memikirkan cara lain dan ia pun teringa 1 orang, Devi.

Sementara itu di kos Devi.....

Ting... Hp Devi bunyi tandan ada chat masuk, ia pun langsung membukanya. Di layar HPnya tertulis dengan jelas nama pengirim chat "Doraemon"

"Dev punya jahe?" tanya Santi.

"Ada, kenapa?" jawab Devi.

"Otw kos, see you," balas Santi. "Dasar aneh." Gumam Devi.

10 menit kemudian Santi tiba di kos Devi. Layaknya seekor Panda, Santi datang dengan tubuhnya yang dibungkus jaket tebal. Bukannya iba melihat sahabatnya seperti itu, Devi malah tertawa ngakak dibuatnya. Puas ngakak Devi pun mengajak Santi masuk, sementara itu Santi membuntuti Devi dengan wajah cemberut.

"Kamu ini kenapa sih?" tanya Devi.

"Masuk angin kayanya." Jawab Santi.

"Pasti gara-gara kehujanan tadi pagi." Ujar Santi.

"Mungkin. Eh mana jahenya, ada kan?" Santi mengingatkan tujuannya datang ke kos Devi.

"Oh ada, bentar," ucapnya.

Devi berdiri mengambil sesuatu dari lacinya dan pergi ke dapur. 5 menit kemudian ia kembali ke kamar dengan membawa segelas minuman dan memberinya ke Santi.

"Apa ini?" tanya Santi heran.

"Jahe," jawan Devi singkat.

"Kok kaya jamu gini, aduh kamu ngasih apaan sih Dev?" tanya Santi lagi.

"Mau kasih racun. Ini tuh namanya Sari Jahe, produk dari Herbadrink. Katanya masuk angin, nih minum." Devi memaksa Santi untuk meminumnya.

Selesai minum ramuan itu wajah puas tergambar di wajah Santi. Ia pun tanya ke Devi apa yang sebenarnya ia minum, dan kenapa Devi bisa bisa punya ramuan itu. Bukannya jawab pertanyaan Santi, Devi malah berdiri membuka lacinya dan mengeluarkan kotak berwarna putih. Devi menyodorkan kotak itu pada Santi yang masih terlihat heran. Dia kemudian membuka kotak itu dan matanya mendapati banyak minuman sachet di dalamnya. Ternyata Devi mengoleksi banyak sekali varian minuman dari Herbadrink

"Ini apa Dev, sejak kapan kamu koleksi beginian?" tanya Santi.

"Setahun belakangan ini. Ini tuh minuman herbal dari Herbadrink, kaya yang kamu minum barusan itu tadi. Nah katamu kamu tadi masuk angin. Herbadrink punya 2 varian yang bisa mengatasi masuk angin yaitu Sari Jahe dan Wedang Uwuh, tapi karena kamu biasanya minum Jahe jadi aku buatin yang Sari Jahe." Devi mulai menjelaskan, sedangkan Santi serius memperhatikan.

"Semua varian Herbadrink dibuat dari bahan alami berkualitas dan udah punya izin edar dari BPOM jadinya aman dikinsumsi. Herbadrink Sari Jahe ini berkhasiat buat menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, kembung dan mual. Kalau yang Wedang Uwuh ini sama khasiatnya kaya Sari jahe, bisa meredakan masuk angin juga. Tergantung selera lidah kita mau yang mana tapi khasiatnya sama dan terbuat dari bahana alami berkhasiat juga tentunya" lanjutnya.

"Kamu sering minum ini?" tanya Santi.

"Iya dong kan banyak manfaatnya. Selain 2 varian ini aku juga punya 3 varian lain dari Herbadrink yaitu Sari Temulawak, Kunyit Asam, dan Kunyit Asam Sirih+Madu." Ucap Devi sambil memperlihatkan satu per satu koleksi Herbadrinknya.

"Wih banyak banget Dev, khasiatnya apa aja ini?" tanya Santi sambil mengambil satu kemasan Herbadink varian Sari Temulawak

"Ini yang Sari Temulawak bisa memelihara fungsi hati, meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki fungsi pencernaan dan menjaga kolesterol di dalam tubuh. Herbadrink Sari Temulawak juga diproduksi secara higenis dan tanpa pengawet sehingga aman dikonsumsi" Jawab Devi.

"Kalau yang ini?" Santi nggak bisa tahan rasa penasarannya. Ia bertanya lagi sambil memegang 2 sachet varian Herbadrink itu.


"Kalau varian kunyit asam ini selain menyegarkan tubuh juga bisa ngatasin masalah bau badan. Herbadrink Kunyit Asam ini cocok banget buat cewek-cewek karena bisa ngatasin masalah haid seperti nyeri perut, jerawat dan bisa memperlancar haid. kLau yang varian Kunyit Asam Sirih Madu ini kurang lebih sama kaya Kunyit Asam, tapi di di varian ini ada sirih yang bisa melindungi organ kewanitaan. Aku biasanya minum ini sih pas haid. Pokoknya kelima varian ini sering aku minum tergantung kebutuhanku minum yang mana." Devi menjelaskan panjang lebar.

Santi pun mulai tertarik dengan produk-produk koleksi Devi. Ia mengamati satu per satu sambil tanya ini itu. Devi menjelaskan seperti guru yang lagi ngasih materi buat muridnya. Menjelang pukul 15.00 Santi pamit pulang karena ibunya mungkin sudah pulang dari pasar. Lagian sebentar lagi mereka harus masak untuk makan malam.

"Nih bawa pulang San." Ujar Devi sambil memberikan kantong kresek hitam kecil.

"Apa ini?" tanya Santi.

"Itu sebagian dari koleksiku. Nanti malem minum lagi ya biar masuk anginmu sembuh seratus persen. Bentar lagi kan kamu udah jatuh tanggal tuh, jadi sekalian kukasih varian Herbadrink buat cewek, jadi nanti kalo sewaktu-waktu nyeri perut kamu minum itu aja." Jawab Devi yang dijawab anggukan dan ucapan terima kasih dari Santi.

Santi bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia beraktivitas seperti biasanya karena tubuhnya udah baikan. Malam harinya ia mengikuti saran Devi untuk minum Herbadrink lagi. Ia menyeruput secangkir Herbadrink sambil bersantai nonton drama kesayangannya di kamar. Aktivitasnya memang lagi nonton drama, tapi pikirannya melayang banyangin hari esok. Besok adalah jadwal pengunduran bimbingan, Santi masih memikirkan nasib skripsinya apakah besok bisa ACC apa enggak.

Lama Santi mikir sampai akhirnya ia ketiduran. Malam ini ia tidur nyenyak sekali tanpa terusik sedikitpun. Santi baru bangun waktu alarmnya berbunyi, waktunya sholat Shubuh. Waktu bangun Santi merasa perutnya nyeri sekali, dengan langkah malesnya pergi ke kamar mandi. Nggak lama kemudian ia balik lagi ke kamar, bukan buat sholat tapi ambil baju ganti. Santi balik lagi ke kamar mandi dan cepat-cepat ia mandi saatitu juga. Selesai mandi ia melihat Bi Minah udah berdiri di depan kompor bersiap menyalakan api. Santi tetep meneruskan langkahnya ke kamar sebentar dan balik lagi ke dapur bantu-bantu Bi Minah seperti biasanya.

Selesai sarapan seperti biasa Pak Danu pergi ke sawah, Fian pergi sekolah dan Bi Minah pergi ke pasar. Jadwal bimbingan Santi dan Devi hari ini sama yaitu jam 09.00, jadi masih ada sedikit waktu buat Santi beres-beres rumah. Di tengah aktivitasnya rasa nyeri itu balik lagi. Santi duduk buat mengurangi rasa nyerinya, tiba-tiba ia ingat bungkusan dari Devi kemarin. Santi cepat-cepat ke kamarnya dan mencari bungkusan keresek itu. Ia mengambil 1 sachet produk itu yaituHerbadrink Kunyit Asam. Santi agak ragu saat mau meminumnya, tapi karena nyerinya cukup menyiksa akhirnya ia paksa buat minum. Lagi-lagi pancaran rasa puas tergambar di wajah cantiknya. Nggak terasa 1 cangkir udah ludes dilahapnya. Santi terdiam sebentar, ia merasa nyeri di perutnya perlahan hilang sampai akhirnya nggak kerasa sama sekali.

Tepat jam 08.00 Devi menjemput, mereka pun berangkat berdua. Saking gugupnya, perjalanan hari ini rasanya sangat lama. Setelah sampai di kampus dan memarkir motor mereka pun masuk kampus dan menuju ruangan yang berbeda buat menemui dosen masing-masing. Setelah menunggu selama 15 menit kini giliran Sinta menunjukkan hasil revisiannya. Benerapa menit dosen pembimbing SInta membolak-balikkan naskah itu sebelum berujar.....

"Saya rasa cukup Mbak, segera siapkan berkas-berkas dan lakukan pendaftaran ujian skripsi di TU program studi ya," ujarnya.

"Baik Bu, terima kasih banyak. Saya permisi dulu, akan segera saya siapkan semuanya." Santi mencoba menahan luapan kebahagiaannya.

"Selamat ya Mbak, semoga dilancarkan." Dosen paruh baya itu kembali berucap dengan sedikit tersenyum.

"Terima kasih Bu." Ucap Santi.

Dengan hati gembira dan senyuman yang menghiasi bibirnya Santi melangkah keluar ruangan itu. Matanya berkaca-kaca, dalam hati ia berkata, "Pak, Buk, sebentar lagi putrimu lulus."

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Aku Akan Lulus"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.