Langkah yang Tertinggal di Trotoar Sudirman
Hujan tipis menggantung di udara ketika Raina keluar dari gedung kantornya di Sudirman. Lampu-lampu gedung tinggi memantul di genangan air, menciptakan garis-garis cahaya yang tampak seperti coretan neon. Jakarta selalu sibuk, bahkan ketika langit sedang muram. Namun malam itu, kota terasa berbeda atau mungkin hanya Raina yang sedang tidak punya tempat untuk kembali lebih cepat.
Ia menuruni trotoar pelan-pelan, membiarkan waktu berjalan sendiri. Di kepalanya, jam kerja masih berdenting, tetapi dalam hatinya ada kekosongan sunyi yang tak bisa ia jelaskan. Di tengah keramaian, ia merasa sendiri, seperti satu titik kecil di antara ribuan langkah yang terus bergerak tanpa mengurangi kecepatannya.
Ia berhenti di depan halte Transjakarta. Bukan untuk naik bus hanya untuk meneduhkan pikiran. Udara berembus lembut, membawa aroma kopi dari kedai kecil di seberang. Raina memperhatikan orang-orang pekerja yang terburu-buru pulang, pasangan yang tertawa kecil, dan lelaki muda yang sibuk menutup laptop. Hidup terus berlanjut untuk semua orang, pikirnya.
“Kamu masih suka berhenti di halte ini rupanya.” Raina menoleh. Suara itu, meski sudah bertahun-tahun tak didengarnya, masih familier, pelan, sedikit serak, tetapi hangat. Lalu ia melihatnya Bram. Pria yang enam tahun lalu pernah menghuni hampir setiap ruang dalam hidupnya.
Raina membuka mulut, tetapi kata-kata terasa samar. “Bram?”Pria itu tersenyum kecil. Rambutnya kini lebih rapi, tubuhnya sedikit lebih tegap, tetapi matanya masih sama, mata yang dulu membuatnya merasa dilihat, bukan hanya diperhatikan.“Aku kira kamu sudah pindah ke luar negeri,” kata Bram sambil melangkah lebih dekat.“Aku sempat,” jawab Raina. “Tapi… ternyata aku tidak betah hidup terlalu jauh dari macet dan bajaj.”Bram tertawa pendek, dan tawa itu membuat kenangan masa lalu berdesakan masuk kembali, kopi tengah malam, rencana-rencana kecil, dan pertengkaran yang akhirnya membuat mereka berjalan ke arah berbeda.
Mereka berdiri di sana, di tengah kota yang tidak memberi ruang untuk perasaan yang tertunda. Namun bagi dua orang ini, waktu seolah melambat.“Kamu mau ke mana?” tanya Bram.“Entahlah,” jawab Raina jujur. “Aku hanya berjalan.” “Kalau begitu,” katanya, “boleh aku ikut berjalan sebentar?” Raina mengangguk. Mereka mulai melangkah menyusuri trotoar, melewati gedung-gedung kaca yang memantulkan sisa hujan. Suasana terasa canggung, tetapi tidak menyakitkan seperti yang Raina bayangkan dulu. “Enam tahun ya?” kata Bram memecah hening. “Enam tahun,” ulang Raina.“Aku sering menebak kalau suatu hari kita akan bertemu lagi. Entah di perpustakaan, atau di kafe. Tapi tidak pernah kubayangkan kamu muncul di halte yang sama.”Raina tersenyum kecil. “Kadang hidup senang bercanda dengan kita.”
Mereka berhenti di zebra cross. Lampu merah menyala. Raina menatap lampu-lampu mobil yang bergerak seperti arus sungai yang tak pernah berhenti.“Kamu apa kabar, Bram?” “Aku baik,” jawabnya. “Masih bekerja di bidang yang sama. Masih menulis kadang-kadang. Masih suka bangun kesiangan. Kamu sendiri?” Raina menarik napas panjang. “Aku baik… dengan cara yang berbeda. Sempat merasa hilang, tapi akhirnya menemukan ritme baru.” “Bagus,” kata Bram, suaranya tulus. “Kamu selalu punya cara untuk berdiri lagi.”
Raina menunduk sedikit. Kata-kata itu menampar kenangan tentang hari terakhir mereka. Hari ketika ia merasa tidak cukup baik untuk bertahan, dan Bram terlalu lelah untuk menunggu. Mereka berpisah bukan karena tidak saling mencintai, tetapi karena keduanya bingung bagaimana mempertahankan diri sendiri. “Aku minta maaf, dulu,” kata Bram pelan, hampir tertelan suara kota. “Aku terlalu keras kepala. Aku pikir cinta cukup. Ternyata, kita sama-sama belum siap.”
Raina menatapnya lama. Tidak ada marah. Tidak ada luka yang menuntut jawaban. Yang ada hanya rasa hangat yang pelan-pelan ia sadari tidak pernah benar-benar hilang.“Aku juga minta maaf,” katanya. “Aku lari terlalu jauh. Kupikir meninggalkanmu bisa menyelesaikan semuanya. Tapi justru aku belajar bahwa beberapa hal harus dihadapi, bukan dihindari.”
Mereka melanjutkan langkah. Hujan kembali turun rintik-rintik, membasahi bahu mereka. Beberapa orang berlari, tetapi mereka tetap berjalan santai di bawah gerimis. “Kamu malam ini mau ke mana, Rain?” tanya Bram setelah beberapa saat. “Aku belum tahu,” jawab Raina jujur. “Tapi aku tidak keberatan kalau kita jalan bareng” “Tepat,” potong Bram lembut. “Tidak perlu terburu-buru memberi nama pada pertemuan ini. Kita bisa mulai dari berjalan.”
Raina tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, langkahnya terasa ringan.“Kamu lapar?” tanya Bram. “Ada warung soto di belakang gedung itu. Dulu kamu suka soto bening kan?” “Masih,” jawab Raina. “Dan kamu masih ingat.” “Mengingatmu tidak pernah sulit,” kata Bram. Ucapannya sederhana, tidak dibuat-buat, tetapi cukup membuat dada Raina hangat.
Mereka berjalan menuju kedai kecil itu, menyusuri gang yang diterangi lampu kuning. Raina memperhatikan cara Bram membuka payung, memegangkannya sedikit miring agar ia tidak kehujanan. Tindak-tanduk yang dulu selalu membuatnya merasa aman.
Ketika mereka tiba di depan kedai, gerimis berubah menjadi hujan deras. Orang-orang berlarian masuk, tetapi Raina dan Bram berhenti di bawah atap. Sejenak mereka saling menatap, seperti dua orang yang menemukan kembali ruang yang pernah hilang. “Rain,” kata Bram pelan, “kalau suatu hari kita siap… bolehkah kita membicarakan yang dulu?” Raina menarik napas, merasakan kenyamanan yang tidak terburu-buru. “Boleh. Tapi tidak malam ini. Malam ini… kita makan soto dulu.” Bram tertawa. “Kesepakatan yang bagus.”
Mereka masuk ke kedai. Hujan mengetuk kaca jendela seperti musik latar yang lembut. Di luar, kota terus bergerak. Di dalam, Raina merasakan sesuatu pulang dengan pelan bukan kepada Bram, tetapi kepada dirinya yang dulu ia tinggalkan. Kadang, pertemuan kembali tidak terjadi untuk mengulang masa lalu. Kadang, ia hadir untuk menunjukkan bahwa hati yang pernah patah pun bisa berjalan lagi, satu langkah kecil di trotoar Sudirman yang ramai. Dan malam itu, langkah Raina akhirnya menemukan ritmenya kembali.

0 Response to "Contoh Cerpen Original 800–1000 Kata"
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.