Flash Fiction 300 Kata – Urban

 


Langkah-langkah orang lain selalu terdengar lebih cepat dari langkahku. Kota ini seperti punya ritme sendiri, ritme yang tidak pernah benar-benar berhenti. Lampu-lampu gedung memantul di trotoar basah, dan suara sirene samar menyelinap di antara sela percakapan orang-orang yang tergesa. Aku menarik napas panjang, mencoba menyelaraskan diriku dengan hiruk pikuk yang tak peduli siapa pun.


Setiap malam aku melewati jembatan penyeberangan yang sama, menatap jalan raya yang padat seperti urat nadi kota, berdenyut, hidup, tetapi dingin. Di tengah keramaian yang saling berdesakan, aku sering merasa seperti titik kecil yang tak pernah benar-benar terlihat.


Hingga suatu malam, saat aku berdiri di atas jembatan itu, seorang perempuan tiba-tiba berhenti di sampingku. Rambutnya terurai, wajahnya lelah tetapi matanya jernih. “Kamu juga merasa kota ini terlalu bising untuk dihuni?” tanyanya tanpa menatapku. Aku terdiam. Pertanyaan itu menabrak kesunyian yang selama ini kusimpan rapi. “Iya,” jawabku pelan. “Terlalu cepat. Terlalu banyak suara.”


Perempuan itu tersenyum tipis, seolah memahami sesuatu yang tak sempat kuucapkan. “Tapi terkadang,” katanya, “kita hanya butuh satu orang yang mendengar, agar kota ini terasa lebih lambat.” Ia kemudian berjalan menuruni tangga jembatan, menghilang ke antara lampu-lampu toko yang hampir tutup. Aku memandang punggungnya menjauh, merasakan sesuatu berubah di dalam diriku, perasaan yang aneh, ringan, dan hangat. 


Malam itu, deru kendaraan masih sama kerasnya, dan lampu-lampu kota masih berkedip seperti biasanya. Tetapi langkahku saat pulang terasa berbeda. Tidak secepat orang lain, mungkin. Tidak selambat sebelumnya juga. Sekadar cukup untuk membuatku merasa bahwa aku tetap bisa berjalan, meski kota tidak pernah berhenti.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Flash Fiction 300 Kata – Urban "

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.