Materi Seminar - Membangun Mental Sebagai Seorang Penulis


Hai, Semua.
Kali ini kita akan belajar tentang bagaimana caranya membangun mental yang kuat sebagai seorang penulis.

Pasti di antara kita ada yang merasa cepat down begitu mendapatkan kritikan, apalagi jika kritikan tersebut lebih bersifat merendahkan atau menghina karya yang sudah capek-capek kita tulis dengan segala upaya dan usaha yang kita bisa. Oleh karena itu, pada hari Selasa, 23 Mei kemarin Olimpus mengadakan seminar daring bersama Kak Imas Hanifah Nurhasanah dengan mengangkat tema "Membangun Mental Sebagai Seorang Penulis". Besar harapan kami materi ini bisa bermanfaat bagi kita semua sebagai seorang penulis agar tidak mudah down, apa pun yang menghalangi jalan kita untuk menjadi penulis profesional dan produktif dalam berkarya.
Berikut materi yang disampaikan oleh Kak Imas:

Membangun Mental Sebagai Seorang Penulis

Bagi seorang penulis, memiliki mental sekuat baja sangatlah diperlukan. Jika ada yang bilang bahwa menjadi seorang penulis yang baik itu tidak mudah, maka sepertinya semua orang akan setuju. Namun kalau dibilang sangat sulit, tidak juga. Jika memiliki kemauan untuk terus berlatih, bukan tidak mungkin cita-cita menjadi seorang penulis yang baik akan terwujud.
Siapa saja bisa menjadi seorang penulis, tapi apakah tulisannya bisa menjadi inspirasi, bermanfaat, dan diterima oleh publik, belum tentu.
Nah, dalam proses untuk menjadi seorang penulis, kita pasti dihadapkan dengan berbagai aral dan rintangan. Jika kita tidak kuat, maka menyerah bisa saja menjadi pilihan. Jangan sampai itu terjadi, ya.

Agar Mental Penulis yang Kuat Ada di Dalam Dirimu

1. Tidak Membiarkan Ide Lewat Begitu Saja
Dalam proses kreatif seseorang ketika menulis, ide adalah salah satu poin penting yang harus ada. Tanpa ide, mana mungkin kita akan menghasilkan sebuah tulisan, bukan? 
Lalu, dari mana ide itu? Harus dicari ke mana? Percaya atau tidak, ide itu selalu ada. Bahkan ketika seharian kamu hanya ada di dalam kamar, menatap semut yang berbondong-bondong mencari remahan roti yang tak sengaja kamu jatuhkan di lantai, ide itu pasti akan ada, jika ... jika kamu menangkapnya. 
Ketika kita mencoba mencari ide, maka ide itu akan datang. Tugas penting kita adalah tidak membiarkan ide yang datang itu lewat begitu saja. 
Tuliskan semua ide-ide yang datang secara terduga atau tidak terduga. Jika kamu tidak membutuhkannya sekarang, mungkin kamu akan membutuhkannya di lain kesempatan.

2. Sabar dan Percaya Kepada Proses
Selanjutnya, salah satu hal yang harus ada di dalam diri seorang penulis adalah sabar. Kesabaran itu sangat penting, karena di dunia ini, semua hal pasti ada prosesnya.
Percaya kepada proses, tidak terburu-buru dan mau mengikuti proses yang ada. Menerima dan menikmati kegagalan demi kegagalan, akan membuat kita bisa lebih menghargai setiap usaha yang telah kita lakukan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di kemudian hari.

3. Mau Berlatih dan Tidak Mudah Berpuas Diri
Tidak ada seorang penulis yang berhasil menjadi penulis yang baik, tanpa latihan menulis. Jika kamu sangat ingin menjadi seorang penulis, maka tentunya harus berlatih menulis. Kalau tidak, untuk apa? Sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah bisa menjadi penulis, kalau berlatih menulis pun malas.
Tidak mudah berpuas diri. Memenangkan sesuatu, seperti lomba menulis tentu adalah hal yang sangat membanggakan. Namun jangan sampai hal tersebut akan membuatmu berhenti berlatih dan terus tenggelam dalam kesenangan yang sementara.

Mental yang Harus Dimiliki oleh Seorang Penulis

1. Hati yang Lapang dalam Menerima Kritik
Tidak semua orang bisa menerima kritik dan saran untuk karya mereka. Kadang-kadang, sebagian penulis yang sudah berusaha keras menciptakan sebuah karya, merasa sedih ketika akhirnya karya yang sudah mereka buat nyatanya malah mendapatkan kritikan yang pedas. Mereka merasa tidak dihargai.
Namun sebenarnya justru dengan adanya kritik yang datang, itu berarti karya si penulis sudah berhasil menarik perhatian. Redakan ego sejenak, terima kritik dan saran, diterapkan atau tidak, semua kembali kepada keputusan masing-masing penulis.

2. Tekad yang Kuat
Dengan tekad yang kuat, seseorang yang berniat menjadi penulis tak akan mudah goyah ketika diterpa cobaan ketika berupaya untuk menjadi seorang penulis yang baik.
Maka, ketika saat ini jika kamu baru mau memulai untuk menjadi seorang penulis, dan ingin memiliki tekad yang kuat, terlebih dahulu, tentukan goals atau tujuan-tujuan yang jelas, alasan mengapa kamu ingin menjadi penulis, dan lain-lain, agar tekad itu terbentuk dan semakin kuat setiap harinya.

3. Terus Mencoba
Kegagalan dan kegagalan pasti akan ditemui dalam semua bidang pekerjaan atau hobi apa pun. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang langsung mahir dalam melakukan sesuatu. Semua orang pasti mulanya adalah seorang amatir. Sama halnya dengan seorang penulis. Tidak ada penulis yang ujug-ujug jadi penulis terkenal dan hebat. Sebelum menjadi penulis yang hebat, mereka semua pasti telah mengalami banyak kegagalan, tapi mereka tidak pernah berhenti mencoba.

4. Berpikir ke Depan
Lupakan hal-hal yang tidak penting di masa lalu, yang mungkin membuat keinginanmu untuk menjadi seorang penulis menjadi luntur. 
Seringnya mungkin terlintas di dalam pikiran kita kalimat semacam ini:
"Seandainya dulu aku begini ...."
"Seandainya dulu aku ikut kelas menulis ini ...."
Semua yang sudah terjadi, tidak akan bisa kembali lagi. Maka dari itu, berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan dan pikirkan saja apa saja yang harus kamu lakukan di masa depan. Susun rencana demi rencana, tujuan demi tujuanmu dan bergeraklah untuk mulai mewujudkannya

5. Terus Belajar
Ikut kelas menulis, ikut seminar kepenulisan, membaca materi-materi kepenulisan di internet, bolak-balik membuka aplikasi KBBI, mempelajari cerpen-cerpen penulis terkenal, di dalam maupun luar negeri, membaca minimal sepuluh halaman buku apa pun setiap harinya, adalah kegiatan-kegiatan yang erat kaitannya dengan belajar menjadi penulis. 

Kalau kamu melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh dan rutin, maka tentu hasilnya pun tidak akan buruk.

Mengapa Kita Harus Memiliki Kekuatan Mental Jika Ingin Menjadi Seorang Penulis?

Kekuatan mental bagi seorang penulis bisa membuatnya bertahan di dunia kepenulisan yang mungkin semakin hari, semakin berkembang dan variatif. Dengan mental yang kuat, seorang penulis akan terus mampu menghadirkan karya-karya yang baru dan diterima dengan baik oleh pembaca.


Manfaat Memiliki Mental yang Kuat bagi Menjadi Seorang Penulis

1. Terus Bertumbuh
Tidak ada seorang penulis pun yang ingin kemampuan menulisnya diam di tempat. Ya, semua penulis pasti menginginkan dirinya terus berkembang, terus tumbuh untuk semakin mahir dalam menulis. Itulah mengapa kesiapan mental dan kekuatan mental diperlukan bagi seorang penulis. Agar ia tidak kalah sebelum berjuang.

2. Memiliki Berbagai Pengalaman
Dengan mental yang kuat, seorang penulis pasti otomatis akan memiliki berbagai pengalaman yang menarik pula. Pengalaman demi pengalaman itulah yang akan membuat si penulis nantinya bisa menciptakan karya-karya yang semakin baik seiring berjalannya waktu.

3. Menemukan Solusi dengan Cepat
Ketika mental kita sudah terlatih, setiap ada permasalahan dalam hal menulis, maka solusi dari permasalahan itu pun akan lebih mudah ditemukan.


Itulah materi yang disampaikan oleh Kak Imas Hanifah Nurhasanah. Insyaallah jika materi tersebut kita cerna dan terapkan dengan baik akan sangat bermanfaat bagi kita sebagai seorang penulis.
Selain materi, tentunya ada sesi tanya jawab yang sayang jika kita lewatkan begitu saja karena sudah barang tentu tidak kalah bermanfaatnya dengan materi di atas.

Tanya jawab

Pertanyaan:
Nama: Aya
Domisili: Bandung
Pertanyaan: Bagaimana mengatasi komen tidak baik dalam cerita kita, disaat kita baru merintis menjadi penulis? Membaca dari sharing yang Kak Imas bagi tadi, mendidik mental kita itu kan nggak mudah. Terima kasih, Kak πŸ’œπŸ’œ
Jawaban:
Salam kenal, Kak Aya. 
Oke, baik. Mengatasi komentar tidak baik di dalam cerita, saat masih jadi penulis baru. 
Komentar tidak baik dan komentar baik, adalah dua hal yang mau tidak mau, harus kita terima, ketika kita mempublikasikan karya kita. Ketika kita memperkenalkan karya kita ke khalayak ramai, tentu akan ada reaksi yang kita dapatkan. 
Kita tidak bisa mengendalikan reaksi apa yang bisa kita terima.
Sebagian besar penulis pasti menginginkan komentar bagus untuk setiap cerita mereka, tapi itu tidak mungkin. Pasti ada yang tidak suka, tidak sesuai dengan selera sebagian pembaca, dll. 
Kita gak mungkin nyuruh mereka buat suka. Kita gak bisa paksa. 
Sekali lagi, kita gak bisa kendalikan rasa suka mereka, tapi kita bisa mengendalikan bagaimana reaksi kita terhadap komentar tidak baik tersebut.
Sebelumnya, kamu harus tahu dulu perbedaan komentar yang tidak baik ini apakah berisi kritik dan saran cuma mungkin kalimat atau kata-katanya rada menyakitkan. Atau justru murni hanya komentar buruk yang mencela? Kalau komentar tidak baik ini berisi kritikan, terima dan teliti, terapkan ke karyamu kalau kamu yakin itu bisa membuat karyamu lebih baik lagi. Kalau ternyata komentarnya murni hanya celaan, lupakan.

Pertanyaan:
Nama: Dwisur
Domisili: Lampung
Pertanyaan: Hai, Kak. Salam kenal. πŸ™
Apa yang biasa Kakak lakukan, jika mood sedang buruk karena kritikan pedas dari pembaca?
Jawaban:
Halo, Kak Dwisur. Salam kenal. 
Mood yang buruk ngerepotin banget gak, sih? Asli. Soalnya saya juga suka gemes sendiri. 
Cuma bedanya, mood saya jarang memburuk karena kritikan pedas, tapi hal lain.
Mungkin karena dulu sudah sering dapat kritikan pedas, meskipun ya, kadang masih ndregdeg juga sih, tapi itu gak berlangsung lama. 
Caranya setelah baca kritikan pedas itu, saya biasanya baca lagi karya saya. Bener gak ya, apa yang dibilang sama ini orang? Kalau kemudian saya menyadari oh bener ternyata, saya perbaiki. Kalau ternyata ah, enggak kok. Karya saya gak begitu. Sudah, saya paling mengucapkan terima kasih dan bilang kalau saya akan pertimbangkan pendapatnya itu. (Dalam hal ini kritikan pedas.) Tapi saya tidak betul-betul menerapkannya kepada karya saya.
Pokoknya kalau memang menurut kamu karyamu perlu diperbaiki, ya, perbaiki.  Kalau menurut kamu tidak perlu, ya, jangan.

Pertanyaan:
Nama: Khai
Domisili: Sumenep, Madura
Pertanyaan: Gimana caranya mengatasi mager, Kak? Kadang tuh di otak udah sempurna nyusun kerangka cerita—katakanlah. Sampai ending bahkan. Tapi enggak nulis-nulis. Jujur, saya masih sering mengalami mental mager ini. πŸ™ˆπŸ™
Jawaban:
Halo, Kak Khai. 
Caranya dipaksa. Berdasarkan pengalaman, ya. Gak ada cara lain selain dipaksa.
Paksakan menulis walaupun cuma satu 200-300 kata dalam sehari. 
Saya pernah pakai alarm ponsel. Misal, habis shubuh, nulis 30 menit. Udah gitu kegiatan apa, dll. Nulis lagi 30 menit. Sampai targetnya kecapai. 
Atau pernah gini. Buat aturan sama diri sendiri. Karena saya suka nonton podcast, atau drakor, saya buat peraturan. Kalau mau nonton drakor hari ini, harus nulis 500/1000 kata dulu.
Ini ampuh di saya. Jadi, coba saja. ✨


Demikianlah notulen seminar daring yang diadakan oleh Olimpus bersama dengan Kak Imas Hanifah Nurhasanah. Besar harapan kami dengan notulen seminar tersebut bisa membuat kita menjadi penulis yang lebih baik dan lebih kuat secara mental dalam mengarungi dunia literasi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Materi Seminar - Membangun Mental Sebagai Seorang Penulis"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.