Ruang Nomor 14
Hujan turun sejak sore, membuat halaman rumah kos itu tampak lebih gelap dari biasanya. Dara baru pindah tiga hari lalu dan belum sempat mengenal siapa pun. Ia hanya tahu satu hal, bangunan itu tua, sepi, dan koridornya selalu terasa lebih dingin dari seharusnya.
Malam itu, listrik sempat berkedip. Dara baru selesai menggantung jaket ketika ketukan pelan terdengar dari pintu. Ia membuka sedikit, dan seorang perempuan muda berdiri di luar dengan payung yang masih meneteskan air. “Kamu Dara, kan?” tanyanya. Suaranya lembut namun ragu. “Aku Nissa. Kamar 12.” Dara tersenyum lega. “Akhirnya ada tetangga yang menyapa. Ada apa, ya?” Perempuan itu menelan ludah sebelum menjawab, “Tadi aku dengar suara dari kamar nomor 14. Padahal kamar itu sudah lama kosong.” Dara mengerutkan kening. “Kosong?” Nissa mengangguk sambil melirik koridor gelap. “Ibu kos tidak pernah menyewakannya sejak kejadian itu.”
Dara menunggu penjelasan, tetapi Nissa malah tersentak kecil ketika mereka sama-sama mendengar suara samar, seperti meja digeser, disusul hentakan pelan. Suara itu datang dari kamar nomor 14, kamar di ujung koridor, tepat di seberang jendela besar yang hanya memantulkan kegelapan. “Makanya aku datang ke kamu,” bisik Nissa. “Aku takut salah dengar.” Dara menutup pintu, mengambil senter dari laci, dan mengajak Nissa menyusuri koridor. Lantai ubin memantulkan cahaya redup. Semakin dekat ke kamar 14, udara terasa semakin lembap, seolah di sana tidak pernah ada cahaya matahari.
Pintu kamar 14 terlihat berbeda, warnanya lebih kusam, gagangnya berkarat, dan nomor kamar nyaris terkelupas. Dara menempelkan telinganya. Hening, namun saat ia hendak menjauh, suara itu muncul lagi, kali ini seperti seseorang menarik napas panjang di balik pintu. Dara menelan keras. “Mungkin ada orang yang masuk diam-diam?” Nissa menggeleng cepat. “Kunci kamar itu sudah hilang sejak lama.” Dara mencoba memutar gagang. Terkunci, tapi terasa seperti ada sesuatu yang menahan dari dalam. Ia mengetuk pelan. “Halo? Ada orang di dalam?” Tidak ada jawaban. Hanya satu ketukan kecil dari balik pintu, meniru ketukan Dara. Nissa mundur selangkah. “Kita sebaiknya kembali ke kamar.”
Namun justru saat itu, pintu kamar 14 berderit terbuka setengah inci. Cukup untuk memperlihatkan celah gelap pekat, seperti lorong tanpa ujung. Bau lembap menyergap hidung. Nissa menggenggam tangan Dara dengan kuat. “Siapa di dalam?” Dara bertanya, meski suaranya bergetar. Sebuah suara lirih keluar dari celah pintu. Bukan suara laki-laki atau perempuan; lebih seperti gesekan udara. Namun mereka berdua menangkap sesuatu yang menyerupai kata-kata: “Tolong buka”.
Dara saling pandang dengan Nissa. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendorong pintu sedikit lebih lebar. Tapi sebelum tangannya menyentuhnya, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dara menjerit kecil dan berbalik. Ibu kos berdiri di koridor dengan wajah pucat. “Kalian tidak seharusnya berada di sini,” ucapnya tegas. “Tutup pintunya.” Nissa memberanikan diri bertanya, “Bu… siapa yang tinggal di dalam?” Ibu kos menatap pintu itu lama sekali sebelum berkata pelan, “Tidak ada. Sudah sepuluh tahun tidak ada.” “Tapi ada suara,” desak Dara. “Seseorang meminta tolong.”
Ibu kos memejamkan mata, menarik napas panjang. “Sepuluh tahun lalu, penghuni kamar 14 hilang begitu saja. Tidak ada jejak. Tidak ada tanda masuk atau keluar. Sejak itu beberapa penghuni kos mengaku mendengar suara meminta dibukakan pintu.” Ia menatap mereka penuh peringatan. “Tapi saat pintu benar-benar dibuka, kamar itu selalu kosong.”
Dara menoleh ke celah pintu gelap. Perlahan, tanpa ada yang menyentuhnya, pintu itu menutup sendiri. Mengatup rapat dengan bunyi klik yang dingin. Ibu kos mendekat dan meraba gagang pintu. “Biarkan kamar ini tertutup. Apa pun yang kalian dengar jangan pernah membukanya.” Dara dan Nissa kembali ke kamar masing-masing dengan langkah gemetar. Namun malam itu, ketika Dara mencoba tidur, ia mendengar suara dari ujung koridor, suara yang sama“Tolong buka”. Dan kali ini, suara itu memanggil namanya.

0 Response to "Cerpen Misteri Mini Cerpen 600 kata"
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.