Stasiun Danau Merpati - Sastrawady





Empat atau lima kali dalam setahun, selalu ada saat dimana sore benar-benar berwarna kuning hingga bangku-bangku besi stasiun yang sedianya abu-abu berubah menjadi oranye yang romantis. Saat-saat tersebut biasanya muncul setelah musim panas yang panjang, atau sebelum semua pohon serempak menggugurkan dedaunannya. DIa dan aku sama-sama mengagumi sore yang seperti itu.
Stasiun Danau Merpati bukanlah stasiun yang ramai; tak banyak penumpang kereta listrik yang turun disini. Begitupula aku. Rumahku berjarak dua stasiun dari sini, seperti kebanyakan penumpang kereta lain jurusan barat. Danau Merpati yang menjadi nama stasiun ini tepat berada di samping jalur rel. Dari bangku tunggu stasiun, Danau Merpati tampak terhampar bagai cermin raksasa. Sore yang kuning memaksa permukaannya membiaskan bayangan bangau sawah yang berterbangan diatasnya menjadi samar, seakan burung-burung tersebut membawa batu-batu kerikil pelumat pasukan gajah. Dia dan aku sama-sama mengagumi bangau-bangau itu.
“Sudah lama kau tak kemari Pak Tua,” ujarnya. Aku menyunggingkan senyum. “Sampai-sampai aku berharap kau muncul dari dalam danau membawa berupa-rupa harta karun,” lanjutnya lagi.
“Umurku sudah 45, tepat bulan ini. Aku takkan repot-repot menyelam untuk mengagetkanmu,” jawabku.
“Aku juga tak berharap demikian. Ya ampun, aku hanya bercanda, dasar orang lama!”
Aku bertemu dengan wanita ini lima bulan yang lalu, tepat disini, saat-saat pulang kerja seperti ini. Ia masih muda, mungkin sekitar 19 atau 20 tahun. Aku tak pernah repot-repot menanyakan asal-usul, umur, bahkan namanya. Ia mengajakku ngobrol dan aku senang pada suaranya. Suaranya lebih merdu dari anak atau istriku. Dan hal-hal yang ia omongkan selalu menarik. Aku akan turun setiap kali kereta berhenti di stasiun ini jika mataku menangkap wajahnya yang oranye romantis –persis seperti kursi stasiun abu-abu yang ia duduki, sedang tertunduk khidmat dalam buku yang ia pegang. Hal ini sering membuatku bertanya-tanya, apakah ini termasuk selingkuh?
“Aku sudah empat kali melihat kau membaca buku itu. Kau belum selesai membacanya?” tanyaku.
“Aku membacanya sudah belasan kali, lebih tepatnya.” Ia menutup buku bersampul hitam dan merah tersebut, mencoba memalingkan perhatiannya padaku. “Ada banyak hal yang tak kumengerti didalamnya..berapa kalipun aku mencernanya.”


“Contohnya?”
“Cinta seorang wanita pada bayangan masa lalunya.”
“Apakah menurutmu itu sulit kau pahami?”
“Itu tak masuk akal,” tandasnya. Ia memutar tutup botol dan meneguk isinya yang tinggal separuh. Stasiun hanya diisi suara angin dan beberapa obrolan petugas stasiun di jarak yang cukup jauh.
“Bagaimana mungkin,” lanjutnya, “Seorang wanita yang dicampakkan dengan kejam oleh seorang lelaki, masih memimpikan lelaki tersebut setiap malam. Ia bahkan tak peduli walau lelaki itu sudah memiliki kekasih baru,” tukasnya lagi, sembari menuntaskan air minum dalam genggamannya.
“Kau takkan mendapatkan jawabannya kalau hanya membaca nasib orang lain. Bagiku, masalah seperti itu adalah hal yang wajar. Kau tahu, wanita adalah gajah yang memiliki seribu laci perasaan.”
“Kau ini transgender ya?” Ujarnya tanpa segan. Aku hanya tertawa. Sekumpulan bangau kembali melintas, menuju matahari yang tampak bulat sempurna di ujung jangkauan mata.
“Akan ada banyak wanita yang tak setuju dengan yang kau katakan barusan, terutama soal kata-kata gajah,” lanjutnya kemudian.
“Wanita memang selalu terlalu khawatir akan pandangan orang lain,” sahutku.
“Kau benar, aku heran mengapa wanita-wanita selalu merubah dirinya demi cinta,” tandasnya.
“Yang aku herankan justru kau yang seorang wanita tidak bisa mengerti hal semacam itu,” ujarku, mengedarkan pandangan pada jalur rel yang sepi.
“Aku tak pernah berpikir masalah cinta,” tatapannya kosong sejenak, pandangannya tertuju pada garis kuning batas peron. “Cinta adalah alasan yang terlalu mengada-ada.”
“Cinta kadang memang tampak mengada-ada. Seringkali tak masuk akal. Tapi hal itu pulalah yang membuat kau, aku, stasiun ini, dan buku yang kau pegang itu ada. Aku percaya Tuhan mengawali semua kehidupan di dunia ini dengan cinta.”
“Apakah kau sekarang berperan jadi Buddha?” tanyanya, dengan senyum geli di wajah. Aku ikut tertawa.
“Padahal biasanya kau membahas soal sejarah atau kereta api atau apalah. Rasanya cukup ganjil mendengarmu membahas cinta,” ungkapku.
“Mungkin.. aku hanya ingin merasakannya,” ujarnya ragu. Ia menentang matahari dengan wajahnya. Sinar kekuningan tersebut menyapu seluruh muka, bulu matanya yang cantik berkilauan, pipinya bersemu.
“Matahari ini.. hangat sekali. Buku ini, bangau-bangau itu, suara peringatan kereta, dan suara serakmu yang selalu menasehatiku ini-itu walau kau bukan siapa-siapaku, aku merasa lebih baik setiap kali kau menemaniku disini, Pak Tua.” Matanya kini berkaca-kaca.
Aku hanya tertunduk, namun kemudian membalas senyumannya.
“Seperti itulah cinta,” jawabku. “Seperti kereta pada stasiun, bangau pada senja hari, koran-koran yang selalu datang kerumahmu setiap pagi, seperti itulah cinta. Ia akan selalu hadir tanpa harus kau sadari. Kau hanya perlu merasakan kehangatannya dalam hatimu.”
Ia melambaikan tangannya dari depan pintu keluar stasiun. Seperti biasa, ia akan pulang ketika kereta arah barat selanjutnya tiba. Lengan sweater-nya tersingkap, lebam dan beberapa guratan masih tergambar. Aku teringat saat pertama kali melihatnya dengan mata sembap di kursi stasiun ini. Profesiku sebagai psikiater langsung menyadari ada yang salah padanya. Sore kekuningan tersebut lenyap di cakrawala, setelah menenggelamkan matahari di tempat bangau-bangau tersebut terakhir terlihat. Sejak sore itu, aku tak pernah melihatnya lagi.

Bio:
Sastrawady merupakan nama pena dari penulis yang menyukai kereta api. Pada April 2017 menelurkan sebuah buku berjudul Kereta dan Cerita-Cerita Lainnya, yang diterbitkan melalui AE Publishing. Dapat dihubungi melalui surel sastrawadyindonesia@gmail.com


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Stasiun Danau Merpati - Sastrawady"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.