Salah satu keterampilan penting dalam penulisan cerita adalah kemampuan membuat pembaca merasakan alur dan emosi, bukan hanya membacanya. Teknik Show, Don’t Tell adalah landasan yang membantu penulis membangun adegan yang hidup, sinematik, dan menyentuh. Melalui teknik ini, pembaca tidak sekadar diberi tahu apa yang terjadi, tetapi diperlihatkan bagaimana peristiwa itu berlangsung melalui detail yang konkret.
Pada dasarnya, telling adalah cara penulis menyampaikan informasi secara langsung. Teknik ini efisien, tetapi jika digunakan berlebihan, cerita menjadi datar dan kurang imersif. Kalimat seperti “Gita marah besar malam itu” mungkin jelas, tetapi tidak menciptakan ruang bagi pembaca untuk ikut masuk ke dalam suasana. Di sinilah showing mengambil peran. Showing memungkinkan pembaca menyimpulkan sendiri emosi tokoh dari tindakan, dialog, atau reaksi fisik, sehingga pengalaman membaca terasa lebih personal.
Misalnya, daripada menulis “Gita marah besar malam itu,” penulis bisa menuliskan “Gita menutup pintu dengan hentakan. Napasnya terputus-putus, dan ia menatap cangkir yang pecah di lantai seperti sedang menahan kata-kata yang ingin meledak.” Tanpa menyebut kata “marah”, pembaca sudah merasakan intensitas emosinya. Teknik inilah yang membuat adegan terasa lebih hidup.
Ada beberapa cara efektif menerapkan Show, Don’t Tell. Salah satunya adalah melalui aksi. Emosi yang kuat biasanya tampak dari tindakan kecil: tangan yang bergetar, langkah yang melambat, atau pintu yang dibanting. Cara lain adalah melalui detail sensorik, yaitu menggunakan pancaindra untuk membangun suasana—seperti bau ruangan, cahaya redup, atau suara angin. Pembaca akan merasa seolah berada di dalam adegan.
Dialog juga merupakan alat yang kuat untuk menunjukkan perasaan tokoh. Sebagai contoh, alih-alih menulis “Adi gugup,” penulis bisa memperlihatkannya melalui dialog terbata-bata yang menunjukkan kegugupannya. Begitu pula dengan reaksi fisik, seperti tubuh yang mundur selangkah ketika takut, atau pundak yang jatuh ketika kecewa.
Teknik lain adalah subteks, yaitu pesan yang tidak diucapkan secara langsung oleh tokoh tetapi tersirat dalam kata-katanya. Subteks membantu menampilkan dinamika hubungan tanpa pernyataan eksplisit. Contohnya, dua tokoh yang saling menyimpan perasaan mungkin saling menawarkan payung atau berbagi jaket tanpa pernah mengucapkan kata “cinta”.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut perbandingan sederhana:
Telling:
Rafi merasa kesepian.
Showing:
Rafi membuka televisi meski tidak benar-benar menontonnya. Ia hanya butuh suara lain yang mengisi kamar kos yang terlalu sunyi.
Melalui showing, pembaca menyimpulkan sendiri emosi Rafi, sehingga keterlibatan emosional lebih kuat.
Meski demikian, penting dipahami bahwa Show, Don’t Tell bukan aturan absolut. Telling tetap diperlukan, terutama untuk mempercepat alur atau memberikan konteks yang tidak membutuhkan adegan panjang. Keseimbangan keduanya adalah kunci. Penulis yang baik tahu kapan harus memperlihatkan, kapan harus memberi tahu, dan kapan harus menjaga ritme cerita agar tetap efektif.
Pada akhirnya, Show, Don’t Tell adalah teknik yang mengajak penulis melihat cerita sebagai pengalaman, bukan laporan. Dengan memadukan detail sensorik, aksi, dialog, dan subteks, penulis dapat menghadirkan dunia yang terasa lebih nyata dan tokoh-tokoh yang lebih meyakinkan. Bagi pembaca, inilah yang membuat mereka tidak hanya memahami cerita, tetapi juga merasakannya.