#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 8 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org






Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 8
Oleh: Imroatul Mufidah


Minggu pagi yang cerah, Bagaz sedang menikmati kopi panas berikut dengan kudapan pisang goreng. Sesekali membaca judul tajuk utama pada koran pagi yang dibacanya.
"Mas Arya sedang sibuk?" tanya Jihan setengah berlari. Bagaz menoleh ke arah sumber suara. Jihan terlihat cantik dengan rok selutut dan t-shirt merah muda.
"Iya, aku harus membantu Pak Ujang benerin atap. Kenapa?" tanya Arya balik.
"Beberapa bumbu dapur habis, aku harus belanja. Tapi biarlah, aku bisa pergi sendiri." Jihan memutar tubuhnya berniat pergi.
"Biar aku yang antar." Bagaz menawarkan diri.
"Tapi ...." Jihan merasa tidak enak.
"Tidak apa, aku bosan tidak ada kerjaan."
"Emmm, begitu."
"Ayo." Bagaz berjalan cepat mendahului Jihan.
Setelah saling bersiap, keduanya berangkat mengendarai mobil sedan putih yang biasanya dikemudikan Arya. Bagaz tidak ingin membahayakan Zahra dengan mengendarai mobil Jeep terbukanya.
Seperti layaknya pasangan suami istri, keduanya berjalan beriringan menyusuri setiap lorong supermarket. Bagaz menawarkan diri menggendong Zahra. Sebenarnya Jihan sudah melarang, tetapi Bagaz sangat memaksa.
Setelah belanjaan hampir penuh, keduanya segera mengantre menuju kasir. Saat itulah Rayya muncul dan merusak suasana.
"Sedang belanja, Nyonya?" tanya Rayya sambil menyapa sinis.
"Heh? Iya." Gugup Jihan menjawabnya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sementara Bagaz diam saja di belakang Jihan.
"Boleh tanya sesuatu? Gimana sih caranya memikat pemuda kaya raya?" tanya Rayya, mengeraskan volume suaranya. Hingga beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.
"Apa maksudnya?" tanya Jihan balik, tidak mengerti dan berusaha cuek.
"Gak usah pura-pura sok lugu, deh. Dasar wanita murahan! Kamu pembantukan di rumah Bagaz? Tapi ngelunjak berharap jadi Nyonya besar? Iya kan?!" teriak Rayya menarik perhatian seluruh pengunjung.
"Aku tidak seperti itu, aku ...." Jihan bingung mau menjawab apa.
"Dengar ya semua yang ada di sini! Dia ini pelakor berkedok pembantu. Kalian tahu pria yang bersamanya adalah pacar saya. Tapi wanita murahan ini menggodanya dan merebutnya dari saya. Kalian harus hati-hati dengan wanita ini!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rayya. Bagaz berdiri tepat di antara Jihan dan Rayya. Untuk pertama kalinya Bagaz tidak peduli dengan penilaian orang tentang dirinya.
"Gaz, kamu .... Kenapa kamu belain pembantu itu, Gaz? Kenapa kamu lebih memilih pembantu itu daripada aku?!" tanya Rayya berteriak semakin keras.
"Kenapa kalau dia pembantu? Aku memilih dia karena dia jauh lebih baik darimu. Menjadi pembantu itu pekerjaan halal. Lebih baik memilih pembantu daripada wanita karir yang tidak punya etika sepertimu!" bentak Bagaz kasar. Matanya merah menyala menahan amarah.
"Pergi sekarang juga! Atau kamu akan tahu akibatnya," ancam Bagaz.
Rayya membanting keranjang belanjaannya dan pergi meninggalkan tempat dia memulai keributan. Bagaz memejamkan mata untuk menahan emosinya. Dia pergi setelah menyerahkan sejumlah uang pada Jihan untuk membayar belanjaannya. Zahra dibawanya pula. Jihan hanya diam dan menerima uang dari tangan Bagaz.
"Maafkan kami, Pak, Bu. Tadi hanya salah paham. Wanita itu ditolak oleh majikan saya. Jadi, dia emosi dan bicara yang tidak-tidak. Majikan saya bukan orang seperti itu, sungguh." Jihan berusaha mengklarifikasi pada para pengunjung.
Ucapan Jihan membuat Bagaz menghentikan langkahnya. Dia tersentuh dengan cara Jihan menyikapi keadaan. Bukannya membela dirinya sendiri, dia malah sibuk menjaga nama baik Bagaz.
Keduanya tidak lagi banyak bicara, tetapi di tengah perjalanan Bagaz memulai obrolan. Tentu saja setelah dia merasa cukup tenang.
"Kejadian barusan … maaf, ya," ucap Bagaz.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa mendengar caci maki seperti itu. Menjadi single parent itu harus akrab dengan tuduhan dan hinaan. Sudah 3 bulan kulewati status ini, setiap hari selalu terdengar nyanyian orang-orang sekitar. Janda gatel, pelakor, wanita murahan, bahkan Zahra harus menanggungnya. Dia mendapat label anak haram. Semua itu sudah seperti makanan pokok untukku. Justru aku merasa bersalah, pasti ini untuk pertama kalinya buat Mas Bagaz."
"Memang benar ini pertama kalinya, tapi ini bukan salah kamu. Ini salahku juga, percaya begitu saja pada wanita dari dunia maya. Aku sendiri tak pernah memberitahukan alamatku padanya. Nyatanya dia bisa menemukan rumahku. Bahkan, datang ke rumah." Bagaz mulai nyaman berbagi cerita dengan Jihan.
"Lagian, kok dia bisa tahu ya Mas kalau aku pembantu di rumah Mas Bagaz?" tanya Jihan.
"Yah mungkin dia tidak percaya dan mulai mencari informasi dari warga sekitar. Atau mungkin dia tanya langsung pada Pak RT, ya, kan? Toh kamu belum lama bekerja di rumahku. Dan yang tahu tentang statusmu cuma Pak RT, kan."
"Berarti Mas Bagaz harus hati-hati sama dia, takutnya dia psikopat." Jihan terlihat serius mengatakannya.
"Entahlah! Tapi kalau dia berani muncul lagi, aku bisa lakukan sesuatu yang tidak akan dia duga sedikit pun." Bagaz seperti mempunyai senjata rahasia untuk menjatuhkan Rayya.
Jihan tersenyum, setidaknya dia tidak lagi merasa bersalah dengan kejadian di supermarket tadi. Bagaz juga lega, hubungannya bukan renggang justru semakin dekat dengan Jihan. Semua karena Rayya, meski tidak langsung.


***


Seminggu berlalu sejak Jihan bekerja di rumah itu. Hari-hari semakin mudah untuk dijalani. Jihan mulai bisa membagi waktunya untuk Zahra dan pekerjaannya. Harinya tidak lagi seberat hari pertamanya bekerja, di mana semua pekerjaan mengantre untuk dikerjakan. Dia punya banyak waktu luang bersantai dengan sang putri. Siang itu Jihan sedang duduk di taman belakang bersama Zahra dalam pangkuannya.
Melihat kesempatan itu, Bagaz berjalan mendekati Jihan. Kebetulan Pak Ujang dan Arya sedang keluar membeli kebutuhan Pak Ujang untuk merawat taman.
Sudah lama Bagaz mencari waktu yang tepat berbicara dengan Jihan. Namun, kesibukan dan suasananya tidak mendukung. Selain itu rasa penasarannya akan status Jihan semakin tinggi. Sejujurnya perasaan Bagaz tidak lagi dapat dibendung. Setiap hari kepribadian yang ditunjukkan Jihan membuat Bagaz semakin kagum.
"Han," sapa Bagaz dibuat selembut mungkin.
"Eh, Mas Bagaz." Jihan berusaha bangkit, tetapi sedikit kesulitan.
"Tidak apa-apa, duduk saja."
"Heh." Jihan bingung, tetapi dia menurut dan kembali duduk. Sesekali memainkan tangan Zahra.
"Boleh kutemani ngobrol?" tanya Bagaz, setelah menunggu Jihan mempersilakan duduk, tetapi ternyata tidak.
"Ini rumah Mas Bagaz, kan?" tanya Jihan.
"Iya."
"Mas Bagaz bebas melakukan apa saja, kan?" tanya Jihan lagi.
"Benar juga, ya." Bagaz sedikit salah tingkah. Namun, segera dia fokus dengan niatnya. Bagaz duduk di kursi, sedangkan Jihan bersimpuh di atas hamparan rumput yang hijau.
"Kamu asli dari kota ini?" tanya Bagaz.
"Bukan Mas, aku asli Surabaya, tapi nasibku kurang baik di sana. Makanya aku ke kota ini. Mas Bagaz sudah lihat KTP-ku, kan?" tanya Jihan balik.
Bagaz menunduk sejenak, dia sadar itu pertanyaan konyol meskipun hanya untuk berbasa-basi.
"Kamu tidak punya keluarga lagi?" tanya Bagaz lebih intens. Jihan menunduk, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ayahnya Zahra?" tanya Bagaz lagi. Butuh banyak keberanian menanyakan hal itu. Namun, Bagaz bertekad bahwa itu harus ditanyakan.
"Si berengsek itu tidak tahu menghilang ke mana." Kali ini raut wajah Jihan penuh dengan kebencian.
"Kamu tidak ingin mencarinya?"
"Aku sudah memutuskan untuk membesarkan Zahra sendirian. Aku tidak peduli dengan dia. Lagi pula begini akan lebih baik." Kalimat Jihan terdengar diselimuti oleh amarah.
"Lelaki seperti itu memang tidak pantas mendapat kesempatan. Tapi tidak semua lelaki sama, kan." Bagaz mencoba menjelaskan agar Jihan tidak menilai dirinya sama.
"Iya aku tahu, masih banyak lelaki yang baik. Contohnya Mas Arya, dia sudah sangat banyak membantuku." Wajah cantik Jihan terlihat memerah.
"Kamu berniat menikah lagi?" tanya Bagaz.
"Lagi?" tanya Jihan dan dia baru berani menatap Bagaz, setelah mendengar pertanyaan yang baginya aneh. Bagaz mengangkat alisnya, "mungkin suatu saat nanti. Tapi lelaki mana yang mau menikah dengan wanita beranak satu sepertiku," lanjut Jihan menghela napas panjang.
"Jika kamu ditakdirkan menikah, kamu pasti bisa menemukan lelaki yang menerima dirimu apa adanya," hibur Bagaz.
Kalimat Bagaz sukses membuat Jihan menitikkan air mata. Hidungnya memerah dan dia mulai terisak.
"Hei, maaf. Aku tidak bermaksud ...."
"Aku tahu Mas, aku hanya tidak mengerti dengan takdir yang harus aku jalani. Rasanya aku ingin menyerah, tapi Zahra tidak punya siapa pun selain diriku, hiks."
"Aku tahu kamu wanita yang kuat, aku yakin kamu bisa jadi ibu paling hebat untuk Zahra. Kalau boleh, aku ingin membantu," ucap Bagaz.
"Heh." Jihan bingung dengan kalimat majikannya. Dia tidak ingin ke-GR-an.
"Maksudku nanti kalau Bik Nung sudah kembali, kamu boleh tinggal di sini sampai kamu bisa mendapat pekerjaan lain."
"Beneran, Mas?" tanya Jihan. Matanya membulat mendengar pernyataan dari Bagaz. Dan pria tampan itu mengangguk sebagai jawaban.
"Terima kasih banyak, ya, Mas. Aku tidak nyangka rumah besar ini berisi orang-orang baik. Aku pikir …." Jihan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kamu pikir hanya Arya yang baik, yang lainnya jahat, gitu?" tanya Bagza menebak, Jihan tersipu malu, "kamu suka ya sama Arya?" lanjut Bagaz bertanya.
"Entahlah. Dia selalu membantu di saat aku butuh. Apa mungkin itu tanda kalau Mas Arya ditakdirkan denganku?" gumam Jihan lirih. Meskipun begitu, Bagaz bisa mendengar jelas ucapan Jihan dan kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadanya terasa nyeri.
"Maaf, Mas Bagaz, aku jadi ngomong yang tidak-tidak." Jihan bangkit dari tempatnya. Bagaz memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Saya siapkan makan siang dulu, Mas," pamit Jihan. Bagaz mengangguk setuju. Jihan segera beringsut pergi meninggalkan Bagaz sendirian.
Tangan kanan Bagaz terangkat, menekan dadanya yang tertusuk sembilu. Pertama kali dalam hidupnya dia kalah dari Arya. Hati Jihan telah dimiliki Arya. Bagaz memiliki segalanya yang ingin dimiliki Arya, dan kali ini sesuatu yang sangat ia inginkan lebih memilih Arya daripada dirinya.
Mungkin inilah yang dirasakan Arya saat menginginkan sesuatu yang tidak dia miliki, justru aku yang mendapatkannya dan benar, rasanya sangat sakit, batin Bagaz.
"Belum terlambat untuk mengubur perasaan ini. Ayo, Gaz! Kamu harus semangat," ucap Bagaz cukup keras.
"Mengubur perasaan apa?" tanya Arya menyahut tiba-tiba, "kamu sedang jatuh cinta?" lanjut Arya bertanya.
"Yah … mungkin begitu."
"Siapa gadisnya?" tanya Arya lagi.
"Emmm itu, itu aplikasi yang kamu bilang. Aku menemukan gadis yang bisa dibilang sesuai tipeku. Tapi dia sudah cinta pada pria lain." Sedikit gugup Bagaz mengarang bebas kisah cintanya.
"Wah, sayang sekali, ya. Padahal, pernikahan Indira sudah semakin dekat," celetuk Arya.
"Masih ada pacarmu, kan." Bagaz mengerling nakal.
"Enak saja! Gak bisalah. Lagian kalau kamu tidak juga menemukan seseorang aku sudah siapkan seseorang untuk jadi pasanganmu."
"Siapa?" tanya Bagaz seraya mengernyitkan dahinya.
"Jihan," jawab Arya tegas.
"Jihan? Jihan itu?" tanya Bagaz, menunjuk ke arah rumahnya.
"Iya, Jihan siapa lagi?" tanya Arya balik.
"Kenapa harus Jihan?" tanya Bagaz, bingung harus sedih atau senang dengan ide sahabatnya.
"Emangnya kenapa? Dia terlihat lumayan. Rayya saja sampai percaya kalau dia istrimu."
"Apa dia mau?" tanya Bagaz, ingin tahu rencana sahabatnya lebih jauh lagi.
"Pasti mau. Lagian kamu majikannya, tinggal bilang ini tugasnya pasti dia menurut." Arya bicara sambil berlalu pergi membantu Pak Ujang. Bagaz tersenyum senang, setidaknya dia punya kesempatan menjadi pasangan Jihan, meski berpura-pura.
Bagaz merasa ada yang janggal dengan semua jawaban yang Jihan berikan. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi. Tidak terlihat sedikit pun ada rasa trauma akan hubungannya yang kandas sebelumnya. Sebaliknya, terlihat jika Jihan belum pernah berhubungan dengan lelaki mana pun. Ditambah lagi, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun jika usianya sudah 25 tahun seperti yang tertera pada KTP-nya. Wanita itu seperti sengaja bersembunyi dari sesuatu.


Surabaya, 5 November 2019


Biodata:


Fida adalah sang pemimpi penuh ambisi di dunia literasi.





Baca juga:

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 8 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.