#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 4 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org







Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 4
Oleh: Imroatul Mufidah


"Ke mana kita sekarang?" tanya Rayya saat keduanya keluar dari cafe.

"Sebenarnya aku ada urusan lain, Ray," ucap Bagaz mencari alasan.
"Ayolah, Gaz! Aku sudah meluangkan waktu untuk pertemuan ini. Lagi pula, bukankah kamu janji akan mengantarku ke salon?" Rayya memegang lengan Bagaz dengan kedua tangannya.
Bagaz melirik gadis di sebelahnya. Dia benar-benar tidak nyaman dengan tingkah gadis itu. Terlalu murahan menurutnya.
"Ya sudah. Ayo!" Bagaz menarik tangannya, lalu berjalan menuju tempat dia memarkir mobil Jeepnya. Rayya tersenyum menang, lalu mengekor di belakang Bagaz.
Mobil Jeep hitam itu berhenti di depan sebuah salon yang cukup terkenal di kota itu. 'SALON CLEOPATRA' tertulis besar dan jelas di sana. Rayya dan Bagaz memasuki salon itu.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang resepsionis.
"Tolong paket lengkapnya untuk temanku, Mbak!" jawab Bagaz cepat.
"Oh ya, tunggu sebentar, ya, Mas."
Bagaz memberi isyarat pada Rayya untuk duduk menunggu di salah satu sudut ruangan. Rayya menurut, dalam hatinya terus bersorak senang kenal dengan pria kaya dan royal macam Bagaz. Setelah selesai dengan seluruh administrasinya, Bagaz berjalan mendekati Rayya.
Baru saja Bagaz duduk, seorang karyawan mempersilakan Rayya untuk memulai perawatannya.
"Sebentar, ya, Gaz," pamit Rayya. Bagaz hanya menaikkan alisnya sebagai jawaban. Kemudian dia menyibukkan diri dengan ponsel.
Wajah Rayya mulai dibersihkan dari riasannya yang cukup tebal. Saat itu Bagaz sempat melirik ke arah Rayya. Sejujurnya dia penasaran dengan wajah asli Rayya. Dia sudah tertipu kamera jahat, dia tidak ingin tertipu lagi dengan make up tebal Rayya.
“Tidak terlalu buruk, setidaknya lebih baik daripada menggunakan make up setebal tadi,” ucap Bagaz dalam hati.
Kali ini Bagaz menyibukkan diri dengan tumpukan majalah serta koran di atas meja. Sudah 3 jam berlalu, Bagaz sempat tertidur karena bosan.
"Sudah selesai, Gaz. Ayo, kita pergi!" tegur Rayya tiba-tiba.
"Heh?" Bagaz sedikit terkejut dengan penampilan baru Rayya. Bedaknya terlihat masih tebal, tetapi lebih natural daripada tadi. Kali ini wajah Rayya cukup enak dipandang.
"Ayo.” Rayya mengulang ajakannya.
"Iya, ayo."
Keduanya berlalu meninggalkan salon. Mobil Jeep itu berjalan menyusuri jalanan yang cukup macet di jam pulang kerja.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Bagaz.
"Kita pulang saja, kulihat sepertinya kamu lelah," jawab Rayya sembari terus berkaca mengagumi penampilan barunya.
"Oke."
Bagaz merasa lega mendengar jawaban Rayya. Setidaknya hari yang membosankan itu akan berakhir. Mereka tidak lagi banyak bicara. Bagaz konsentrasi menyetir. Sementara Rayya sibuk dengan penampilan barunya.
"Berhenti di sini saja," ucap Rayya.
"Ini rumahmu?" tanya Bagaz.
Mobil Bagaz berhenti di depan sebuah rumah tipe 36 dengan taman kecil yang penuh dengan tanaman bonsai.
"Iya, mau mampir?" tanya Rayya.
"Enggak. Lain kali aja."
"Ya udah. Terima kasih buat semuanya, ya."
Bagaz tersenyum dan mengangguk. Rayya turun dari mobil Bagaz. Berjalan berlenggak-lenggok seolah jalan menuju rumahnya adalah cat walk. Bagaz tersenyum geli dan menggelengkan kepala. Lalu, mulai menyalakan mesin dan pergi meninggalkan rumah itu.
Tepat pukul 7 malam, Bagaz sampai di rumah. Rumah bergaya Eropa itu tampak indah bertabur lampu warna-warni yang diletakkan di setiap sudut rumah. Ketika Bagaz masuk rumah, Pak Ujang dan Arya menyambutnya.
"Kok, kalian berkumpul di sini?" tanya Bagaz.
"Kami sedang mengawasi pekerjaan pembantu baru, Bos." Arya menjawab pertanyaan majikan sekaligus sahabatnya.
Bagaz mengernyitkan dahi sembari berjalan mendekat ke meja makan. Meja persegi panjang dengan 8 kursi yang ditata sedemikian rupa itu penuh dengan makanan. Mata bulat Bagaz berpindah ke arah dapur. Dia melihat setiap sudut dapur dan sekitarnya. Semuanya tampak mengilat sama seperti saat terakhir kali dilihatnya. Bagaz mengangguk-angguk, merasa puas dengan pekerjaan pembantunya.
Bagaz kembali ke meja makan. Mengambil posisi paling ujung dan menempatkan diri di sana. Dia melihat dengan saksama setiap piring dan makanan yang terhidang di meja. Terlihat enak, penyajiannya pun tidak kalah dengan master chef di televisi.
"Lumayan, kita coba dulu rasanya. Tapi, ngomong-ngomong di mana orangnya?" tanya Bagaz.
"Anaknya menangis, Bos. Dia sedang menenangkannya," jawab Arya.
"Ayo, duduk! Kita makan sama-sama," ajak Bagaz pada kedua pegawai di rumahnya itu.


Arya yang sudah menahan lapar sejak tadi, tidak menunggu dua kali untuk dipanggil. Dia langsung duduk tepat di sisi kiri meja. Melihat Arya tanpa sungkan menerima tawaran majikannya, Pak Ujang segera duduk di samping Arya. Mereka mulai mengambil makanan sesuai porsi masing-masing.
Bagaz mengambil sendok, lalu mengambil sedikit bumbu ayam kecap yang terhidang. Dia mencium baunya, lalu mencicipi dengan ujung lidah. Dia mengangkat alisnya, lalu berkata, "Lumayan."
Ketiganya menyantap habis makanan di meja. Tidak butuh waktu lama, seluruh hidangan itu telah berpindah pada perut ketiga pria kelaparan di rumah itu.
"Aku mandi dulu. Nanti kutemui pembantu itu untuk menjelaskan pekerjaannya. Dan tentu saja untuk memutuskan dia diterima atau tidak."
"Siap, Bos," ucap Arya.
Bagaz mendengkus kesal, menunjuk dua jarinya pada Arya dengan tatapan kesal. Arya hanya tersenyum, dia tahu sahabatnya itu sedang kesal pada dirinya, entah apa sebabnya.
Jam 8 malam Bagaz turun dari lantai. Pak Ujang, Arya, dan Jihan sudah menunggu di ruang keluarga. Pak Ujang dan Jihan berdiri bersebelahan. Sementara Arya duduk santai di salah satu kursi.
Jihan tidak berani menatap majikannya. Terlintas di benaknya wajah seram seorang pria. Berbeda dengan Bagaz yang memandangi Jihan dari ujung rambut hingga kaki.
"Kamu masih muda. Siapa namamu?" tanya Bagaz.
"Ji-jihan, Tuan," jawab Jihan gugup.
"Kenapa kamu jadi pembantu?" tanya Bagaz.
"Saya butuh uang untuk saya dan anak saya, Tuan," jawab Jihan.
"Baiklah. Kamu saya terima. Pekerjaanmu hanya memasak dan mencuci baju. Termasuk membersihkan sepatu, tas, dan kamarku. Pekerjaanmu hanya itu. Kalau pekerjaanmu bagus akan kugaji tinggi. Untuk makan dan minum kamu boleh buat sendiri dengan bahan yang tersedia. Paham?" tanya Bagaz.
"Paham, Tuan."
"Bagus. Istirahatlah! Kamu terlihat lelah."
Bagaz menutup kalimatnya. Beranjak dari tempat duduk dan berniat kembali ke kamar.
"Tuan," panggil Jihan tiba-tiba. Dia baru saja berani memandang majikannya.
"Iya." Bagaz menoleh ke arah Jihan.
"Terima kasih, Tuan."
"Kerja saja yang bagus."
Saat itulah Jihan mengenali wajah majikannya. Wajah seseorang yang meminjami dia uang seratus ribu untuk membeli susu tadi siang. Bagaz kembali berjalan pergi.
"Tuan," panggil Jihan.
"Apalagi?" tanya Bagaz tanpa menoleh.
"Hutang saya tadi siang, potong dari gaji saya saja," ucap Jihan senang.
Bagaz tampak berpikir sejenak. Lalu, teringat dengan kejadian di taman tadi siang. Spontan matanya membulat. Dia terdiam, lalu menoleh cepat pada Jihan.
"Kamu ...." Bagaz ragu melanjutkan pertanyaannya.
"Saya yang membersihkan sepatu Tuan tadi siang," jawab Jihan mengerti maksud pertanyaan Bagaz.
"Huekkk, ..." Bagaz langsung merasa mual mendengar ucapan Jihan, "sial," lanjutnya mengumpat. Dia segera berlari ke kamarnya. Rasanya makanan yang ada di dalam perut berontak ingin keluar.
Ketiga pegawainya saling menatap bingung dengan yang dilihatnya. Arya memberi isyarat agar Pak Ujang dan Jihan tenang. Arya berlari menyusul Bagaz ke kamar.
"Ada apa, Gaz?" tanya Arya saat melihat Bagaz berusaha mengeluarkan isi perut.
"Ada apa kamu bilang."
"Jadi dia, gadis yang tadi siang kamu temui di taman?" tanya Arya.
Bagaz mencuci mulut. Dia bersandar di dinding dan mengatur napas. Setelah merasa cukup tenang, dia mulai bicara.
"Bagaimana bisa aku makan dari tangan wanita kotor seperti itu."
"Hati-hati kalau bicara, Gaz! Maknanya terdengar berbeda. Jangan memberi label seseorang jika kamu belum tahu."
"Lalu aku harus menyebutnya apalagi?!" tanya Bagza kesal.
"Mungkin dia punya alasan kenapa dia melakukan hal itu tadi. Mungkin saja dia butuh uang, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seharian aku mengawasi pekerjaannya. Dia cukup rapi dan bersih."
"Kamu baru mengenalnya. Dari mana kamu bisa menilai begitu?!" tanya Bagaz kesal.
"Aku sudah mengenalnya lebih dari 6 jam. Sedangkan kamu hanya melihatnya sekilas dan menyimpulkan sendiri penilaianmu." Arya mencoba berdebat dengan Bagaz.
"Kamu suka padanya?" tanya Bagaz.
"Ini bukan tentang suka atau tidak. Dia membutuhkan pekerjaan ini. Dia berusaha bertahan hidup tanpa meminta belas kasihan orang lain. Bukankah itu hal yang baik? Kenapa kita tidak membantunya."
"Bagaimana kalau kita tertipu dengan penampilannya?" tanya Bagaz.
"Tidak, Gaz. Dia sungguh membutuhkan pekerjaan ini. Kamu ingat saat aku pulang dengan keadaan babak belur? Aku menolong gadis itu. Dia menolak menjadi wanita penggoda meski dia butuh uang. Bagiku itu cukup membuktikan karakternya. Lagi pula, tadi kamu lihat penampilannya juga bersih, kan? Apa sama dengan yang kamu temui tadi siang?" tanya Arya. Bagaz menggeleng sebagai jawaban.
"Aku berani jamin. Keadaan yang membuatnya terlihat kotor. Berilah dia kesempatan! Aku yakin dia tidak akan mengecewakan." Arya terlihat sungguh-sungguh mengatakannya.
Bagaz berpikir sejenak. Semua yang dikatakan sahabatnya benar. Hati nuraninya juga menginginkan untuk membantu gadis itu.
"Baiklah. Akan kuberi dia kesempatan. Tapi, kamu harus bertanggung jawab atas Rayya." Bagaz melingkarkan lengannya ke leher sahabatnya. Arya menahan tangan Bagaz, sambil mengerang menahan sakit.
"Aaakkkh. Kenapa Rayya?" tanya Arya di sela erangannya. Bagaz melepaskan tangannya.
"Cewek pesolek, dengan dandanan menor yang hobi narsis. Rasanya seperti di neraka jalan dengannya," jawab Bagaz kesal.
"Huahaha .... Kamu bicara seolah pernah ke neraka saja, hahaha."
"Puas kamu tertawa." Bagaz melempar bantal pada Arya. Lalu, membanting tubuhnya ke ranjang.
"Sorry-sorry," jawab Arya dengan masih melanjutkan tawanya hingga menggema memenuhi ruangan.
Sementara di lantai dasar Jihan cemas menunggu nasib yang akan diterimanya. Dia tidak tahu letak kesalahannya. Pak Ujang sudah beberapa kali menguap. Mungkin dia lelah seharian bekerja.

Surabaya, 1 November 2019

Biodata:

Seorang ibu rumah tangga yang rindu bekerja. Menulis untuk mengeluarkan ide dalam kepala. Berharap dapat memberi pahala.


Baca juga:





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 4 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.