#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 5 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org








Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 5
Oleh: Imroatul Mufidah


Fajar belum juga terlihat, Jihan sudah terjaga dari tidurnya. Seulas senyum tampak dari bibir merahnya. Dia bersyukur malam ini bisa tidur nyenyak dan aman tentunya. Setelah beberapa malam dia harus melewati dengan penuh perjuangan. Ini jauh lebih baik dari yang dia harapkan sebelumnya.
Jihan segera bangkit dari peraduan. Sebelum bayinya bangun dia harus menyelesaikan semua pekerjaan atau semua akan berantakan. Apalagi kalau bayinya sampai rewel.
Jihan memulai pekerjaannya dengan mencuci baju majikannya yang sudah sangat menggunung. Entah sudah berapa lama cucian itu dibiarkan menumpuk. Baju-baju itu tidak terlalu kotor, hanya sedikit bau keringat yang berbaur dengan minyak wangi.
Sambil menunggu mesinnya bekerja, Jihan duduk termenung, ingatannya kembali memutar memori semalam. Saat Arya turun dari lantai atas, wajahnya terlihat muram. Jihan seolah mendapat firasat kalau dirinya gagal mendapatkan pekerjaan ini.
"Gimana, Mas?" tanya Jihan cemas. Pak Ujang yang sempat tertidur sedikit gelagapan.
"Maaf, Han. Aku sudah berusaha meyakinkan Bos, tapi sepertinya ...." Arya tidak melanjutkan kalimatnya. Jihan menahan napas, bersiap mendengar berita buruk. "Sepertinya kamu harus mulai terbiasa mendengar ocehan Bos kita," lanjut Arya.
"Jadi? Saya diterima, Mas?" tanya Jihan berbinar, tapi tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Arya mengangguk mantap.
"Syukurlah. Terima kasih banyak, Mas Arya," seru Jihan kegirangan.
Pak Ujang ikut tersenyum senang. Setelah itu Pak Ujang pamit untuk istirahat lebih dulu. Sementara Arya masih harus menjelaskan pekerjaan Jihan berikut dengan letak barang yang dibutuhkan Jihan.
"Sudah tahu semua, kan? Ada yang masih belum paham?" tanya Arya mengakhiri penjelasannya.
"Terima kasih ya Mas, udah banyak membantuku," ucap Jihan.
"Tak perlu sungkan. Setiap manusia harus saling membantu, istirahatlah! Jangan sampai kamu sakit di hari pertama bekerja." Arya menepuk ujung kepala Jihan perlahan.
Sikap dan cara Arya memperlakukan Jihan membuat hati Jihan luluh. Entah sejak kapan dimulai, tetapi Jihan merasa ada benih cinta tumbuh di hati.
"Setiap aku membutuhkan bantuan, Tuhan selalu mengirimkan Mas Arya padaku. Apa mungkin ini tanda dari Tuhan?" tanyaku dalam hati.
Bunyi mesin cuci yang menunjukkan proses penggilingan telah selesai membuat Jihan sadar dari lamunan, dengan penuh semangat Jihan melanjutkan pekerjaannya.
Selesai mencuci, Jihan mulai sibuk di dapur. Menu yang diinginkan majikannya sudah tersedia di atas lemari pendingin. Berbagai bahan dan bumbu dapur disiapkannya. Lalu, dengan terampil dia mulai memasak.
Tepat pukul 7 pagi, seluruh masakan sudah terhidang di atas meja makan. Seluruh dapur juga sudah bersih mengkilat. Jihan selalu mengingat nasihat Arya untuk menjaga kebersihan. Sekarang dia mulai bersiap membersihkan sepatu-sepatu majikan. Namun, tangisan Zahra—putri kecilnya menghentikan aktivitas. Jihan ke kamar, menenangkan si putri, lalu memandikan. Setelah si bayi siap, dia menidurkan di atas keranjang cucian dari rotan yang sudah tidak digunakan lagi. Wanita itu sempat membersihkan dan membuatnya layak sebagai tempat tidur bayi. Sebotol susu diberikan pada si bayi. Zahra masih berusia 3 bulan dan belum membutuhkan makanan pendamping.
Saat bayinya tenang dengan sebotol susu di tangan, Jihan mulai mengumpulkan sepatu dan membersihkan di sebelah bayinya tidur. Dia pisahkan sepatu sesuai bahan. Wanita itu tahu betul sepatu yang tidak boleh terkena air dan yang harus dicuci dengan air. Jihan tidak mengeluh mengerjakan semua pekerjan. Tanpa menyadari ada seseorang yang diam-diam memperhatikan cara dia bekerja sejak pagi tadi.
Bagaz melihat semua yang dilakukan Jihan dari monitor kamera cctv yang sengaja dia pasang di setiap sudut ruangan, kecuali ruangan yang membutuhkan privasi, seperti kamar tidur dan kamar mandi.
"Rasanya dia tidak pantas jadi pembantu," gumam Bagaz lirih.
"Lalu, pantasnya jadi apa? Istri?" sahut Arya yang muncul dari balik pintu kamar Bagaz.
"Bukan begitu. Lihatlah penampilannya? Dia tidak seperti pembantu atau sejenisnya," tunjuk Bagaz ke layar monitor.
Saat itu Jihan mengenakan celana Legging selutut yang dipadu dengan kaos oblong berwarna putih. Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai. Kulitnya yang kuning langsat menambah cantik wajahnya. Sungguh berbeda dengan yang ditemui saat di taman hari itu. Gaun krem selutut yang sedikit kumal, dengan rambut diikat acak, serta jaket bulu yang sudah terkontaminasi dengan debu jalanan. Saat itu wajah Jihan juga sangat kusam, persis seperti gelandangan. Orang tidak akan menyangka jika dia adalah Jihan yang hari ini bekerja di rumah Bagaz.
"Tapi dia terampil dan berbakat dalam pekerjaannya. Bukankah itu menunjukkan dia sangat profesional sebagai asisten rumah tangga?" tanya Arya balik. Bagaz tampak berpikir keras. Mungkin yang dikatakann Arya benar, tetapi ada yang mengganjal di hati, dan itu jadi misteri yang sejujurnya ingin dipecahkan olehnya.
"Hari ini apa Bos ingin kuantar ke suatu tempat?" tanya Arya.
"Tidak, hari ini aku ingin bersantai di rumah. Kenapa? Kamu ada kencan?" tanya Bagaz.
"Ishh, lagi tanggal tua gak ada uang buat nge-date," jawab Arya.


"Lalu?" tanya Bagaz lagi.
"Aku mau service mobil, tarikannya udah gak enak."
Bagaz memajukan bibirnya. Tatapan matanya kembali pada layar monitor. Jihan yang sedang bersenda gurau dengan bayinya menarik perhatian Bagaz. Tawa renyah serta senyum manis itu menghipnotis Bagaz.
"Bos? Hallo." Arya menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Bagaz.
"Iya, pergilah," jawab Bagaz kesal, karena temannya menghalangi pemandangan indah di monitor.
"Jangan terlalu lama dipandang, nanti jatuh cinta," goda Arya sembari berlalu pergi.
"Pergi sana!" perintah Bagaz dengan teriak melempar bolpoint di meja ke arah Arya. Tawa Arya terdengar dari balik pintu. Namun, kata-katanya mengusik pikiran Bagaz.
"Yang bener saja? Masak jatuh cinta pada pembantu," gerutu Bagaz, beranjak meninggalkan tempatnya.
Bagaz turun ke lantai bawah untuk sarapan. Dia berjalan celingukan mencari seseorang, tetapi tidak ada seorang pun di ruangan itu. Dia membuka tudung saji. Menu favoritnya terlihat begitu menggiurkan. Dia kembali menoleh ke kanan dan kiri. Sebenarnya dia sedikit jaim karena kejadian semalam.
"Kenapa aku jadi seperti maling di rumah sendiri, ya," gumam Bagaz.
Pria bertubuh tinggi itu segera menarik kursi dan mendaratkan tubuh di sana. Tanpa ragu lagi dia membalikkan piring dan mengambil makanan yang terhidang.
Masakan buatan Jihan benar-benar sempurna di lidah Bagaz. Dia melahap habis makanan di piringnya dan kembali mengambil porsi kedua sarapan. Jika perut tidak terasa penuh, rasanya Bagaz ingin menghabiskan seluruh makanan itu.
"Permisi, Tuan," sapa Jihan tiba-tiba membuat Bagaz tersedak.
"Uhuk, uhuk uhuk ...."
"Tuan baik-baik saja?" tanya Jihan, sambil setengah berlari mendekati majikannya, lalu menepuk-nepuk ringan punggung majikannya.
"Minum!" pinta Bagaz di sela batuknya, dengan sigap Jihan menuang air putih dan menyerahkannya pada Bagaz.
Setelah meneguk minumannya, Bagaz mulai merasa lega. Meski masih terasa tidak nyaman pada kerongkongannya.
"Kenapa?" tanya Bagaz.
"Emm anu, kalau pekerjaan saya sudah selesai, boleh saya meluangkan waktu buat Ara?" tanya Jihan.
"Ara?" tanya Bagaz balik.
"Putri saya," jawab Jihan.
"Ya, tentu saja. Aku tidak membatasi jam kerjamu. Yang aku mau cuma semua pekerjaan beres. Aku tidak mau sampai harus menunggu saat aku butuh sesuatu."
"Baik, Tuan."
"Dan ingat! Jangan sampai membuat rumah berantakan atau kotor." Bagaz mengacungkan telunjuk untuk mempertegas ucapannya.
"Siap, Tuan," ucap Jihan senang, segera berlalu pergi.
"Oh ya!" seru Bagaz. Jihan menghentikan langkahnya.
"Seperti yang lainnya, jangan panggil Tuan padaku, panggil saja Mas Bagaz."
"Heh, tentu ..., Ma---s Bagaz," jawab Jihan gugup.
"Dan berhenti bicara terlalu formal, oke," lanjut Bagaz.
"Baik," sahut Jihan, dia masih berdiri mematung.
Bagaz meninggalkan meja makannya dan kembali ke kamar. Jihan memutar tubuh berjalan menuju ke meja makan dan merapikannya. Piring kotor yang baru saja digunakan majikannya segera dibersihkan. Dia tidak mau sampai ada cela dalam pekerjaannya, yang dapat membuatnya kehilangan pekerjaan itu.

Surabaya, 3 November 2019



Biodata:


Seorang ibu rumah tangga yang rindu bekerja. Menulis untuk mengeluarkan ide dalam kepala. Berharap dapat memberi pahala.



Baca juga:





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 5 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.