#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 6 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org








Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 6
Oleh: Imroatul Mufidah


Ting-tung, ting-tung.
Suara bel pintu ditekan seseorang. Pak Ujang sedang merapikan taman di belakang rumah. Sementara Jihan sedang membereskan kamar tidur majikannya. Hanya Bagaz yang sedang bersantai membaca koran di ruang TV.
Ting-tung, ting-tung, ting-tung.
Kembali bel berbunyi, dengan malas Bagaz berjalan ke arah pintu depan. Pria yang sempurna itu selalu terlihat rapi kapan pun dan di mana pun.
Ting tung, ting tung!
Sepertinya sang tamu adalah orang yang tidak sabaran. Bagaz mempercepat langkah dan segera membuka pintu rumah yang cukup besar dan lebar.
"Halo, Gaz," sapa seorang gadis di depan pintu. Gadis ber-make up tebal—Rayya.
"Kamu ke sini?" tanya Bagaz terkejut melihatnya.
"Iya, apa gak boleh?" tanya Rayya balik dan langsung nyelonong masuk tanpa dipersilakan, "rumahmu besar dan mewah, ya. Aku gak menyangka kamu bicara jujur. Kupikir kamu bohong," lanjut Rayya, berjalan ke tengah ruangan sambil terus mengagumi seluruh bangunan indah nan mewah itu.
"Shit!" umpat Bagaz tidak suka mendengar dirinya dianggap bohong, "ada apa ke sini? Cuma mau buktikan aku jujur atau tidak?" cerca Bagaz.
"Gak juga, sih. Tadi aku jalan-jalan ke pasar. Gak sengaja lihat sesuatu yang lucu kayak kamu. Aku ingat kamu. Jadi, aku beli buat kamu."
"Aku? Lucu?" tanya Bagaz heran.
Rayya mengangguk sambil mengedipkan mata sok imut. Tangannya menyodorkan sebuah kotak warna merah dengan pita merah muda.
"Apaan ini?" tanya Bagaz.
"Buka aja!" perintah Rayya.
Ragu Bagaz menerima kotak itu, sudut matanya melirik Rayya yang tersenyum riang. Bagaz membuka penutup kotak itu, dan ....
"Uwwaaa, tikus!" teriak Bagaz, spontan menjatuhkan kotaknya dan melompat naik ke atas sofa, "kamu gila, ya? Kenapa kamu bawa tikus ke sini?" maki Bagaz, wajahnya pucat pasi.
"Lho, ini lucu, Gaz."
"Lucu dari mana? Itu menjijikkan, hiiii ...." Bagaz bergidik geli.
"Tapi ini Hamster bukan tikus."
"Bodo amat! Cepat tangkap tikus itu! Mang Ujang, toloooong!" teriak Bagaz memanggil Pak Ujang.
Kejadian selanjutnya adalah drama menangkap Hamster yang cukup lama dan menguras tenaga. Teriakan Bagaz tiap kali makhluk kecil itu mendekatinya membuat Jihan penasaran dan turun ke lantai bawah.
"Ada apa, Mas?" tanya Jihan ikut panik melihat keributan di depannya.
"Tikus," tunjuk Bagaz ke bawah kolong meja.
Jihan mengambil makanan hewan kecil itu di lantai tempat Bagaz menjatuhkan kotaknya. Jihan mengisyaratkan agar semua tenang. Dia keluarkan remahan dari tempatnya dan menyodorkannya pada hewan yang satu ordo dengan tikus. Hewan lucu itu perlahan mendekat, sekejap kemudian Jihan berhasil menangkapnya. Ara yang saat itu berada dalam gendongannya tertawa melihat Hamster di tangan sang ibu.
Pak Ujang merasa lega, sementara Bagaz menjauh dari tempat Jihan berdiri memegang Hamster. Dia memasukkan kembali hewan kecil itu ke kotak. Sedangkan Rayya menatap penuh curiga pada Jihan.
"Siapa dia?" tanya Rayya tanpa basi-basi. Jihan dan Mang Ujang tidak berani menjawab. Rayya adalah tamu majikannya, terlihat lancang jika mereka menjawab, sementara majikannya ada di sana. Namun, Bagaz tidak bergeming karena rasa takut masih menyelimuti dirinya, wajahnya masih terlihat pucat.
"Istrimu, ya? Dan dia anakmu," tuduh Rayya sembarangan.
"Heh." Jihan terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan padanya.
"Jadi kamu bohong, ya?" tanya Rayya semakin menggila.
"Ada apa ribut-ribut ini, Tuan? Nyonya?" tanya Arya yang baru datang memotong tuduhan Rayya.
"Nyonya?" tanya Rayya ditujukan pada Arya.
"Iya. Beliau Nyonya rumah ini—istri Tuan Bagaz," jawab Arya dibuat selugu mungkin.
"Berengsek! Kamu tipu aku, ya." Rayya mengangkat tasnya berniat melemparnya ke arah Bagaz.
"Woi-woi, apa-apaan ini? Jangan macam-macam atau kupanggilkan satpam!" ancam Bagaz.
"Dasar penipu!" umpat Rayya, mengambil paksa kotak berisi Hamster dari tangan Jihan, kemudian berlalu pergi. Suasana menjadi hening, Arya menarik napas panjang merasa lega. Bagaz bisa duduk tenang di sofa setelah tidak ada lagi makhluk yang ditakutinya sejak kecil.
"Kenapa Mas Arya berbohong?" tanya Jihan yang masih dilanda kebingungan.
"Dia itu wanita jahat yang ngejar-ngejar Bos. Aku sengaja berbohong atas perintah Bos. Biar dia tidak mengganggu Bos lagi, benar kan Bos?" tanya Arya mengerling nakal.
"Yah, begitulah! Tidak apa Jihan, maaf kamu jadi terlibat. Sekarang kembalilah bekerja, Mang Ujang juga boleh pergi," jawab Bagaz, tubuhya masih terasa lemas karena rasa takutnya tadi. Jihan dan Pak Ujang berlalu pergi. Meski Jihan merasa tidak enak hati.
"Apa-apaan kamu, hah?" tanya Bagaz pada Arya, pelan, tetapi tegas.
"Ini kesempatan emas, Bos. Dengan begini dia tidak akan mengganggumu, kecuali dia pelakor. Cuma gadis gila yang mau ganggu pria beristri."
"Iya, tapi kamu sukses merusak image baik yang selama ini kujaga."
"Bukankah Bos kesal di dekatnya? Seperti neraka, kan?" tanya Arya.
"Tapi tidak dengan cara ini."
"Lalu, gimana caranya? Ini satu-satunya cara supaya dia melupakanmu. Bos sendiri yang salah, terlalu jujur pada cewek di sosmed."


"Aku sendiri bingung, dari mana dia tahu alamat rumah ini? Tapi, apa kamu yakin?" tanya Bagaz memastikan.
"Apa salahnya kita coba? Siapa tahu berhasil, kan." ucap Arya.
"Terserah kamulah." Bagaz beranjak dari tempatnya. Arya tertawa cekikikan membayangkan apa yang baru saja terjadi. Rupanya sedari tadi dia mengintip dari balik jendela samping rumah.
Setelah puas tertawa, Arya teringat jika mobilnya harus menginap di bengkel. Dia setengah berlari mengejar Bagaz. Majikannya itu masuk ke ruang olahraga yang dia siapkan di rumah itu. Letaknya bersebelahan dengan ruangan untuk menyetrika baju. Jihan sedang berada di sana, melicinkan baju yang tadi pagi dicuci. Samar terdengar Zahra menangis.
"Bos, mobilnya banyak masalah jadi harus menginap. Besok pagi baru bisa diambil."
"Oke," jawab Bagaz singkat.
"Berarti hari ini aku bisa libur, dong?" tanya Arya tersenyum nakal.
"Libur? Enak aja. Pikirkan bulan depan dengan siapa aku pergi ke resepsi pernikahan Indira!" titah Bagaz.
"Lha, kan yang mau pergi Bos. Terserah Boslah," jawab Arya, sengaja menggoda sahabatnya.
Mendengar ucapan Arya, Bagaz langsung menatap tajam sahabatnya. Arya menelan ludah, ada sedikit rasa takut menyergap. Terpikir apakah ucapannya menyinggung majikannya.
"Sekarang ini jadi tugasmu! Aku Bosmu, kan? Jadi, aku berhak memberimu perintah." Bagaz tersenyum puas, setelah mengucapkannya.
"Lalu, aku harus cari di mana Bos?" tanya Arya, mendengkus.
"Aku tidak mau tahu. Atau pacarmu saja, gimana? Sepertinya dia lumayan cantik," goda Bagaz. Dia memainkan matanya nakal.
"Enak saja. No-no-no."
"Carikan cewek lain atau pacarmu yang kuambil!" ancam Bagaz.
"Ishhh," desis Arya.
Owaaaaa … owwwaaa.
Tangisan Zahra semakin keras terdengar. Arya dan Bagaz saling memandang. Tanpa komando, keduanya berjalan mendekati ruangan Jihan yang sedang menyetrika baju.
Jihan sibuk dengan pekerjaannya, sementara Zahra—bayinya dibiarkan menangis di atas keranjang.
"Sabar, Sayang. Nanti Bunda ambilkan air tajin untukmu." Jihan berbicara kepada bayinya, seolah makhluk mungil itu mengerti ucapannya.
Bagaz menoleh pada Arya di belakangnya. Bagaz memberi isyarat agar Arya bertanya apa yang terjadi pada Zahra. Arya dengan memonyongkan bibirnya menurut dan mendekati Jihan.
"Han? Kenapa dengan Ara?" tanya Arya.
"Dia lapar, Mas," jawab Jihan bingung, menghentikan pekerjaannya. Lalu, menepuk-nepuk anaknya agar tenang. Jihan takut tangisan Zahra mengganggu kenyamanan di rumah itu.
"Kenapa tidak kamu beri makan?" tanya Arya.
"Dia belum boleh makan."
"Iya, maksudku susu. Kenapa tidak kamu beri susu?" tanya Arya lagi.
"Susunya habis, Mas. Aku belum ada uang untuk membelinya."
"ASI-mu?" tanya Arya lagi.
Jihan menelan salivanya mendengar pertanyaan Arya. Dia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Arya.
"Tidak keluar airnya, Mas," jawab Jihan. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Tinggalkan dulu pekerjaanmu! Lakukan sesuatu agar dia merasa lebih baik. Kasihan dia, tubuhnya sampai memerah," sahut Bagaz yang sudah berdiri di belakang Arya.
"Oh iya, Mas Bagaz. Maaf jika Zahra mengganggu." Jihan terkejut dan sedikit takut. Bagaz pergi meninggalkan ruangan itu, tanpa berkata apa pun lagi.
"Tenangkan dulu Zahra! Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu nanti," saran Arya pada Jihan untuk menurut.
"Baik," jawab Jihan segera mematikan setrika dan meletakkannya di tempat yang aman. Lalu, dia raih Zahra ke dalam pelukan, menimangnya perlahan. Zahra mulai terlihat tenang. Arya pergi meninggalkan Jihan dan bayinya.


Surabaya, 4 November 2019


Biodata:

Imroatul Mufidah adalah wanita yang menekuni hobi menulis di setiap waktu senggangnya.




Baca juga:







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 6 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.