#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 2 oleh: Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org







Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 2
Oleh: Imroatul Mufidah

Setelah membeli segala keperluan bayinya, Jihan kembali berjalan tak tentu arah. Bayi dalam gendonganya tertidur setelah menghabiskan dua botol susu. Jihan beberapa kali mengusap dahi dan lehernya. Terik matahari cukup menyengat kulit.
Jihan berhenti di bawah pohon di tepi jalan. Lalu lintas di sana cukup sepi. Jihan meneguk air mineral dari botol yang diambil di tas besarnya. Sebuah tarikan napas panjang lolos dari hidung mancungnya.
Kali ini tatapannya berhenti pada bayi dalam gendongannya. Melihat bayinya tertidur pulas, Jihan tersenyum.
'Seandainya aku sendirian menjalani ini, pasti akan lebih mudah. Tapi karena kamu, aku harus berjuang lebih keras lagi,' kata Jihan dalam hati.
Gadis itu kembali menarik napas panjang. Dia mengangkat kepalanya, dan sorot matanya berhenti pada sebuah rumah yang tertulis "Penyalur Asisten Rumah Tangga. Pasti Amanah dan dapat dipercaya". Jihan tersenyum senang, tenaganya kembali pulih. Dengan mantap melangkahkan kakinya menuju rumah itu.
"Maaf Neng, kami tak bisa menerimamu. Gak akan ada orang yang mau memperkerjakan wanita yang punya bayi."
"Tolonglah Bu! Saya sangat butuh pekerjaan ini."
"Ini benar-benar gak mungkin!"
"Saya mohon Bu," tangis Jihan. Sang pemilik terlihat bingung serta kasihan.
Kring kring! Kriiiiiinngggg!
Telepon di dekat pemilik usaha berdering. Dengan malas dia mengangkat telepon itu.
"Iya Hallo! Bisa saya bantu?" Wanita itu tampak mendengar dengan seksama suara dari sebrang.
"Maaf sekali Pak, kami benar-benar sedang kehabisan pekerja. Mungkin Bapak bisa menunggu seminggu atau sebulan lagi?" Wanita itu kembali diam, wajahnya terlihat bingung.
"Sebenarnya di sini ada seorang wanita yang sangat butuh pekerjaan Pak. Tapi dia memiliki seorang bayi yang harus dibawa bersamanya."
"Baik, Pak! ... siap Pak! ... baik," wanita itu menutup teleponnya.
"Sepertinya kamu beruntung Neng! Ada pengusaha muda dan kaya yang sedang butuh pembantu rumah tangga. Karena saya tidak ada orang lain lagi, dia mau menerimamu bekerja. Tapi ingat! Kamu harus bekerja dengan baik. Kalau kamu sampai merusak nama baik tempat ini, jangan harap saya mau membantumu lagi!"
"Terima kasih Bu," ucap Jihan senang.
"Sebentar lagi sopirnya akan menjemputmu. Bersiaplah! Pakai baju yang rapi dan bersih. Kamu boleh mandi dan makan dulu di sini."
"Sekali lagi terima kasih Bu!"
Wanita itu mengangguk dan mempersilahkan Jihan untuk membersihkan diri di rumahnya.
Tepat satu jam setelahnya, sebuah mobil sedan putih datang memasuki pekarangan rumah.
"Jihan! Ini sopirnya sudah datang," teriak pemilik rumah pada Jihan. Dengan tergopoh Jihan berjalan ke luar rumah.
"Lho? Kamu kan?" Si sopir menunjuk pada Jihan. Sementara Jihan mengernyitkan dahi mencoba mengingat siapa lelaki itu.



"Kalian saling kenal?" tanya pemilik rumah.
"Belum, kami hanya tak sengaja bertemu," jawab sopir dengan senyuman.
"Oh begitu! Kirain saling kenal."
"Belum kok! Ya sudah Bu, kami harus segera pergi. Mas Bagaz sudah menunggu."
"Tentu saja, pergilah!"
Setelah berpamitan Jihan dan sopir itu berlalu meninggalkan pekarangan rumah pemilik jasa penyaluran pembantu rumah tangga. Di dalam mobil, Jihan sibuk menyusui bayinya supaya cepat tidur dan tidak mengganggu pekerjaannya nanti.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya sopir.
"Hemm? Iya. Maaf kamu siapa ya?" tanya Jihan polos.
"Oh ya! Namaku Arya." Si sopir mengulurkan tangan.
"Bukan! Maksudku apa kita pernah bertemu?"
Jihan pada pertemuan mereka.
"Emmm iya! Jadi kamu yang waktu itu? Terima kasih banyak ya Mas Arya?" Wajah Jihan berbinar senang bertemu dengan orang baik yang pernah membantunya.
"Sudah kewajiban sesama manusia. Nama kamu siapa?"
"Jihan, panggil saja begitu!"
Arya mengangguk mengerti. Arya merasa Jihan tak ingin bercerita lebih banyak tentang dirinya.
"Majikan kita, apa orang jahat?" tanya Jihan.
"Heh?"
"Maksudku, majikan kita orangnya seperti apa? Kamu sopirnya kan? Berarti dia majikanmu juga kan?"
"Oh, maksudnya Mas Bagaz? Orangnya baik dan pengertian kok. Kamu pasti betah kerja di sana. Asalkan kamu kerjanya yang bener. Mas Bagaz itu paling benci kotor atau jorok. Jadi kamu harus memastikan setiap sudut rumahnya bersih supaya Mas Bagaz puas."
"Hanya itu?"
"Yup!"
"Apa rumahnya besar?"
"Kalau itu ..., nanti kamu bisa lihat sendiri."
Jihan mengangguk-angguk tanda mengerti. Kali ini dia diam tak lagi banyak bertanya.
Tak berapa lama mobil mewah itu memasuki gerbang yang cukup tinggi dan besar. Di balik gerbang, Jihan melihat sebuah pekarangan yang luas dan sebuah bangunan yang tinggi besar bercat putih dengan dua pilar yang menjulang tunggi hingga ke lantai dua bangunan itu.
Jihan menelan salivanya, tak sanggup membayangkan jika dia harus bekerja sendiri membereskan rumah atau istana lebih tepatnya.
"Ayo turun!"Arya mengajaknya turun dari mobil.
Gugup Jihan menurunkan kakinya dari mobil putih itu. Arya menurunkan barang-barang Jihan dari bagasi, membawanya masuk ke dalam rumah. Jihan mengekor di belakangnya.
"Kalian baru datang?" tegur seorang pria paruh baya yang muncul dari arah belakang.
"Iya Pak, apa kami terlambat?" Arya balik tanya.
"Sebenarnya tidak, tapi Mas Bagaz baru saja pergi karena ada urusan. Nanti saat makan malam baru akan pulang. Dia minta pembantu barunya masak makan malam sebagai tugas pertamanya sekaligus sebagai seleksi layak tidaknya sebagai pembantu di rumah ini." Pria itu menjelaskan panjang lebar.
"Kamu sudah dengar kan?" Arya bertanya pada Jihan. Yang ditanya menggangguk beberapa kali tanda mengerti.
"Oh ya! Ini Pak Ujang. Beliau yang bertugas membersihkan seluruh bangunan ini berikut dengan tamannya. Jadi kamu tak perlu khawatir bekerja sendirian," goda Arya yang menyadari ketegangan Jihan.
"Syukurlah," gumam Jihan lirih.
Setelah Jihan diantar ke kamarnya dan menidurkan bayinya, Jihan memulai pekerjannya. Rupanya gadis itu cukup mahir di dapur. Menu yang diminta majikannya bisa dengan cepat di kerjakannya. Untungnya rumah besar itu memiliki peralatan dan bahan masakan yang sangat lengkap. Semua barang tertata dengan rapi, sehingga dengan mudah Jihan dapat menemukan apa pun yang dibutuhkan.
Tepat pukul 7 malam, majikan mereka datang. Namun bersamaan dengan itu, bayi Jihan menangis. Terpaksa Jihan meninggalkan ruang makan untuk menenangkan bayinya.

Surabaya, 27 Oktober 2019

Biodata:

Seorang ibu rumah tangga yang rindu bekerja. Menulis untuk mengeluarkan ide dalam kepala. Berharap dapat memberi pahala.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 2 oleh: Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.