#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 1 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org








Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 1
Oleh: Imroatul Mufidah

"Sabar sayang, hari ini Mama pasti bisa dapat pekerjaan untuk membeli susu buatmu."
Seorang gadis bertubuh kecil dan kurus berusaha menenangkan anak dalam gendongannya. Bayi kecil yang usianya belum genap setahun itu, menangis karena haus dan lapar.
Sesaat kemudian gadis itu menoleh ke kanan dan kiri, bingung mencari bantuan. Tangannya menggenggam erat tas besar yang penuh dengan baju ganti dan peralatan bayi.
"Aku harus pergi kemana lagi? Ayo Jihan, kamu tak boleh putus asa!"
Wajahnya yang kusam ditambah rasa cemas membuatnya terlihat makin berantakan. Bayi dalam gendongannya juga tak berhenti menangis.
Tiba-tiba tatapannya berhenti pada seorang pria yang duduk di seberang jalan. Pria itu asyik mendengarkan musik dari gawainya, sesekali kepalanya mengangguk-angguk seirama dengan musik yang didengarnya.
Tanpa berpikir panjang Jihan mendekati sang pria. Menatap lekat-lekat pada sang pria. Tujuannya hanya untuk memastikan, apa pria itu benar-benar pantas untuk dimintai tolong. Dia tak ingin salah orang dan malah dijerumuskan pada dunia gelap. Seperti kejadian beberapa waktu lalu, yang masih tertanam jelas pada ingatannya.
Saat itu sudah larut malam, hujan mengguyur membasahi seluruh kota. Jihan berusaha menghangatkan bayinya. Duduk bersimpuh pada sudut teras rumah milik seseorang. Tak lama sebuah mobil Jeep memasuki pekarangan rumah itu. Seorang pria turun dari mobil, tatapannya begitu tajam pada Jihan. Pria itu berjalan mendekatinya.
"Hai, sedang apa kau di sini?" Pria itu berteriak cukup keras.
"Maaf Tuan, saya hanya menumpang untuk berteduh. Kasihan bayi saya jika kehujanan." Jihan menjawab dengan bibir bergetar menahan dinginnya malam.
"Kamu mau maling ya?" Pria itu melotot pada Jihan, bola matanya seperti hampir keluar.
"Tidak Tuan, sungguh kami hanya berteduh. Kami tidak punya rumah Tuan. Maaf jika kami mengganggu, kami akan pergi." Jihan meraih tasnya dan bersiap pergi.
"Tunggu!" Pria itu menghentikan langkah kaki Jihan. Matanya melucuti tubuh Jihan dari ujung rambut hingga kaki. "Kamu benar tidak punya tempat tinggal?" Pria itu bertanya. Jihan menjawab dengan anggukkan kepala.
"Kamu mau kerja?"
"Mau Tuan," mata bulat Jihan berbinar mendapat tawaran bekerja.
"Ayo ikut aku!"
"Ke mana, Tuan?"
"Katanya mau kerja, ikut aja! Gak usah banyak tanya." Pria itu membuka pintu jeepnya, mengisyaratkan agar Jihan segera naik. Tanpa rasa curiga Jihan menurut dan mengikuti pria itu.
Mobil Jeep itu berhenti di belakang sebuah bangunan. Jihan tidak tahu bangunan apa itu. Pria yang membawanya turun dari mobil, berjalan menuju bangunan tersebut. Tak lama dua orang pria keluar dari dalam bangunan itu.
Ketiganya nampak berbicara, sesekali salah seorang pria yang memakai setelan baju bunga-bunga memandang ke arah Jihan. Lalu pria itu menyerahkan sejumlah uang. Bersamaan dengan itu pria yang mengenakan setelan serba hitam mendekati Jihan. Membuka pintu mobil menarik tangan Jihan kasar.
"Saya mau dibawa ke mana?" Jihan mulai merasa ada yang aneh.
"Ikut saja!" Pria itu menjawab dingin. Jihan mengikuti langkah pria itu, namun dia masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman sang pria.
"Bekerjalah dengan baik!" Pria yang membawanya berteriak sambil tersenyum jahat, terakhir kali pria itu mencium uang yang didapatnya. Setelah itu Jihan tak lagi melihat pria itu.
Jihan dibawa ke dalam sebuah ruangan. Di sana terdapat cermin besar yang disusun mengelilingi dinding ruangan. Di bawahnya terdapat beberapa meja yang ditata rapi, lengkap beserta berbagai macam make up. Ada seorang gadis cantik yang tengah memoles wajahnya. Bajunya sangat terbuka untuk seorang wanita.


"Mulai sekarang kamu bekerja denganku, layani tamumu dengan baik. Sangat mahal aku membayarmu." Pria yang mengenakan setelan bunga-bunga itu mulai bicara.
"Kerja? Kerja apa?"
"Ganti saja bajumu! Margareth akan memberitahu pekerjaanmu." Pria itu membelakangi Jihan. "Kamu tahukan tugasmu?" Pria itu bertanya pada sang gadis, yang dijawab dengan anggukan dan senyuman genit. "Dan kau! Awasi gadis ini!" Lanjutnya pada pria yang mengenakan setelan hitam.
"Siap Bos!" Pria itu menegapkan tubuhnya. Yang dipanggil Bos segera berlalu pergi.
Saat itulah Jihan sadar sedang berada dimana. Gadis itu memeluk bayinya erat, dia berpikir untuk lari dari tempat itu. Tasnya digenggam kuat, matanya menatap tajam pada pria yang diperintahkan untuk menjaganya. Pria itu sedang menggoda gadis bernama Margareth di dekatnya. Melihat ada celah, Jihan mendorong tubuh pria itu hingga ambruk menindih Margareth.
Bruakk!!
"Aaa, aduh!" Margareth berteriak kesakitan.
"Sial!" Bodyguard itu mengumpat.
Jihan segera berlari meninggalkan tempat itu. Namun ternyata sang pria mengejarnya. Jihan tak dapat berlari cepat dengan beban yang dibawanya. Bodyguard itu berhasil menangkap Jihan. Dia menyeret tubuh kecil Jihan, sementara Jihan terus meronta. Bayi dalam gendongannya menangis.
"Oaaak, oaakk ...!"
Tangisan bayi itulah yang menolongnya, seorang pria yang tengah mengendarai mobil melalui jalan di dekat situ berhenti dan segera membantu. Namun tubuh pria itu tak cukup mampu melawan sang bodyguard. Pria itu berusaha sekuat tenaga menahan tubuh sang bodyguard dan mengisyaratkan pada Jihan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Pergi! Lari!" teriak pria itu.
Jihan menurut dan meninggalkan tempat itu. Jihan terus berlari tak ingin berada di sana lagi. Jihan tak tahu apa yang terjadi dengan pria itu selanjutnya. Jihan memutuskan untuk pergi dari kota itu. Dia takut orang suruhan si mucikari menemukannya.
"Hai kamu!" teguran pria itu membuyarkan lamunan Jihan. "Ngapain kamu lihat-lihat?"
"Eh anu, boleh saya sikat sepatunya?" Jihan gugup menjawabnya. Pria itu nampak bingung, sesaat melirik sepatunya yang cukup berdebu. Sementara bayi dalam gendongan Jihan mulai tertidur karena lelah menangis.
"Ok boleh!" Pria itu melepaskan sepatu kulitnya, dan menyerahkan pada Jihan. Sementara Jihan kebingungan, dia tidak tahu harus membersihkan sepatu itu dengan apa. Jihan teringat dengan popok bayinya yang sobek beberapa hari lalu. Diambilnya popok itu dan mulai dia gosokkan pada sepatu di tangannya.
"Untung saja tidak langsung kubuang popok ini," bisik Jihan sambil menahan tawa.
Beberapa menit kemudian sepatu itu telah mengkilat, Jihan meletakkan sepatu itu di sebelah kaki empunya. Jihan kembali sibuk dengan sepatu sebelahnya.
Si pria tersenyum melihat hasil kerja Jihan. Pria itu tertarik melihat cara kerja Jihan. Saat itu Jihan tengah membersihkan noda saus yang mengering pada sepatu. Karena sedikit susah menghilangkan noda itu, Jihan menggunakan ludahnya untuk membasahi kain.
"Hai!" Pria itu berseru cukup keras, membuat Jihan terperanjat. "Kau gunakan popok dan ludahmu untuk membersihkan sepatuku?"
"Emmm maaf Tuan, ini kotorannya susah dibersihkan. Ini popoknya udah gak kepake dan masih bersih kok!"
"Ishhh," pria itu bergidik jijik.
"Maaf Tuan, yang tadi gak pakek ludah kok!"
"Ah sudahlah, balikin sepatunya!"
"Tapi ini belum selesai Tuan," Jihan masih berusaha melanjutkan tugasnya. Pria itu mengambil paksa sepatunya, lalu mengenakannya. Sesaat memandang jijik tangannya lalu mengambil saputangan dari sakunya.
"Issshh, dasar orang aneh!" Pria itu terus berdesis, dan segera berlalu pergi.
Jihan terduduk lemas, usahanya gagal dan tak mendapat apa-apa. Bayinya kembali menangis.
"Sabar Sayang, Mama pasti bisa beliin kamu susu." Jihan menimang putri kecilnya.
Rupanya tangisan bayi itu didengar oleh sang pria. Dia kembali dengan selembar uang seratus ribu yang disodorkannya pada Jihan.
"Maaf, saya bukan pengemis," tolak Jihan.
"Aku tak punya uang kecil, kamu punya hutang kembalian padaku. Kalau kamu beruntung kamu pasti bisa kembalikan uang ini. Kalau tidak kamu berhutang padaku sampai mati."
"Aku pasti akan bayar hutangku," Jihan menerima uang itu dengan mata berbinar. Sang pria berlalu pergi sambil mengangkat tangannya. Jihan tersenyum lega, air mata haru membasahi pipinya.

Surabaya, 26 Oktober 2019

Biodata:

Fieda, lahir di Malang 28 tahun silam. Bermimpi sederhana tetapi butuh perjuangan luar biasa untuk mewujudkannya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#Jumat_Cerbung - Gadis di Balik Kelambu Hitam Part 1 oleh Imroatul Mufidah - Sastra Indonesia Org"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.