Pedas Manis 2 - Daud Farma


“Apa kabar kamu nakku, Musa? Sudah lama tidak menelepon, ada apa? Ibu rindu kamu nak.”
“Ya mak, Musa juga rindu. Musa sehat mak.” Belum sempat aku memulai topik tentang menikah, ibuku sudah memulainya.
“Pulanglah, Nak. Ayo kita melamar Nadia calon menantu mamak.”
“Hah? Mamak serius?”
“Cepatlah pulang selagi hati mak sedang lunak.”
“Alhadlillah Ya Alllah. Terimakasih, Mak. Baiklah minggu depan aku pulang, mumpung sekarang musim panas dan kami libur panjang.” Sungguh bukan main senangnya aku! Seakan dunia ini adalah milikku seorang! Seakan aku baru merdeka dari jajahan Belanda atas Indonesia! Tidak dapat kugambarkan kebahagiaanku yang sebentar lagi jadi pegantin dan meminang gadis Jawa.

Soal kenapa aku suka gadis Jawa? Tidaklah sesingkat aku mengenal Nadia karena buku. Tetapi memang sejak aku masih kelas satu smp dulu, sejak aku sudah umur belasan, aku telah kagum pada gadis jawa. Ada bebarapa faktor. Pertama, karena ustadzah-ustadzahku yang dari jawa kulihat ciri kecantikannya berbeda, ada manis-manisnya saat mereka tersenyum, persis seperti Nadia saat mengunggah photonya di akun instagram miliknya. Kedua karena tutur katanya yang menurutku amat lembut, tidak terasa keras dan kasar seperti orang sumatera pada umumnya, meskipun memang orang sumatera adalah kebanyakan melayu. Dan kami orang Kuta Cane Aceh Tenggara jugalah mirip-mirip cara bertututr katanya orang batak dan melayu. Ketiga, karena memang aku ingin berbeda dengan abang-abangku yang semuanya menikah dengan satu daerah, desanya dekat-dekat pula. Aku sendiri ingin punya istri orang jauh.
Dulu tahun pertama aku sampai di Al-Azhar Mesir, aku ingin sekali istriku orang Mesir. Tetapi sulit untuk dimungkinkan, karena orang mesir seleranya tinggi! Aku penuh kekurangan, hitam, kurus, dan pesek. Hanya satu modalku, yaitu tinggiku.

Sepekan kemudian aku pun pulang ke Aceh Tenggara. Aku di sambut keluargaku begitu istimewanya sehingga rumah kami penuh. Sepertinya ibuku mengundang satu desa ke rumah kami. Sedangkan aku tidak bawa oleh-oleh apapun, hanya bawa badan dan pakaianku dalam tas rensel milikku. Padahal ini adalah hari pulang pertama kali setelah tiga tahun di Mesir. Sudah fokus menikah, lupa bawa oleh-oleh. Dua hari di rumah, aku, ayahku, ibuku, bambkhu-ku datang ke Jawa, untuk melamar Nadia.
“Kenapa lah jauh kali ke Jawa jodohmu, Musa?”
“Mak, usahlah ditanya lagi. Katanya Mamak sudah setuju.”
“Ya Mamak sudah setuju, tapi kenapa mesti orang Jawa? Orang kuta Cane kan banyak Nak?”
“Banyak, tapi tidak seperti Nadia, Mak.”
“Apanya yang tidak seperti Nadia?”
“Rupanya, alisnya, senyumnya, putihnya, hidungnya, matanya,”
“Emang kau pernah ketemu dengan Nadia sebelumnya?”
“Belum pernah. Tapi kan aku sudah tunjukkan photonya ke, Mamak.”
“Nak-nak, zaman sekarang masih percaya sama photo. Sekarang ini semuanya palsu, tidak ada yang asli. Memanglah photonya yang cantik pula dia pilih untuk dikirim ke kamu agar kamu tergoda.”
“Mak, tidak boleh buruk sangka, kuyakin aslinya lebih cantik, Mak.”
“Mana pula lebih cantik! Photo yang dikirim ke kamu itu saja sudah palsu, dia pasti lebih jelek dari itu,” Ibuku ngomel-ngomel dalam pesawat. Aku sudah malas menyahut. Kalau aku ladenin pasti tidak habis-habis hingga tiba di depan rumah Nadia nantinya. Aku memilih diam saja, tapi ibuku masih mengomel sendirinya.
“Belum pernah ketemu tapi sudah melamar, duh jodoh zaman sekarang begitu singkat!” kata ibuku melanjutkan. Aku diam menatap ke luar jendela, kulihat awan-awan yang cerah, pertanda awan itu berpihak padaku, bukan pada ibuku yang sekarang setengah setuju.
“Sudahlah turun saja kita, balik lagi ke Kuta Cane. Nanti ibu pilihkan jodoh yang mirip Nadia, di Aceh Tenggara juga banyak!”
“Mak, kita ini sedang di udara, di atas awan, Mak. Mana bisa turun, kalau mau pulang nanti lah kalau sudah sampai.” Kataku sedikit jengkel sebenarnya, tapi aku tidak marah, aku sayang ibuku. Kalau dia benar-benar tidak setuju, aku hanya menurut, kalau katanya balik saat tiba di bandara tujuan nantinya, ya aku ngikut saja. Karena memang aku hanya ingin ridho ibuku. Tiba-tiba kudengar suara ayahku dari kursi duduk belakang.
“Udah, Mamakmu memang begitu, usah disahuti. Nanti kalau dia sudah bosan mengomel dia akan berhenti sendiri.”

Kami pun tiba di bandara Abdurrahman Saleh, kulihat ibu diam. Ibuku mengikuti jejak langkah kami. Walaupun senyumnya belum manis. Aku mengikuti rute sesuai dengan yang Nadia berikan. Benar memang, aku belum pernah ketemu Nadia. Tetapi aku yakin dia tidak berbohong, soal lamaranku ini sudah aku pastikan akan diterima ayahnya seratus persen. Karena memang Nadia lah yang memaksaku agar segera menikahinya dan dia sudah memberitahu ayahnya terlebih dahulu. Tidak berapa lama kami pun sampai di kampung Pakis, taksi yang kami naikki tiba di depan rumah Nadia yang di pinggir jalan.

Kami disambut oleh keluarga Nadia. Sambutan yang luar biasa, santun, ramah, indah dan bahagia. Ayah dan bambkhu-ku duduk di ruang tamu. Aku dan ibu dipersilakan masuk ke dalam kamar kosong yang sudah disediakan. Ibu lelah dan ia baringan, tiba-tiba ibu bicara setelah kian lama ia membisu sejak dari bandara tadi.
“Ramah betul orang Jawa, Nak. Tidak sia-sia kamu cari istri orang Jawa.” Alhamdulillah, komentar pertama ibuku begitu mantap. Itu adalah pertanda hatinya semakin lunak karena terkesan dengan tutur kata keluarga Nadia, itulah kesan pertama ibu. Kemudian aku pun menelepon Nadia, aku belum melihantnya padahal aku sudah ada di dalam rumahnya. Tadi waktu di taksi aku chating-an mulu dengannya minta diarahkan ke alamat rumahnya, sebenarnya supir taksi sudah tahu. Teleponku tidak dia angkat.
“Dik, kamu di mana? Aku sudah sampai loh di rumahmu.” Pesanku via whatsapp.
“Ini aku di kamarku mas. Persis di samping kamar yang mas tempati.”
“Kelaurlah kalau begitu.”
“Aku malu mas.”

Keluarga Nadia adalah gologan menengah ke atas dari segi ekonomi, rumahnya luas dan mewah. Tetapi aku datang kemari bukan karena ekonominya, melainkan memang karena cinta, dia adalah Nadia. Namun bukannya disambut, dia malah bersembunyi. Timbul dalam hati ada niat ingin menghukumnya nanti kalau sudah suami-istri. Seperti hukuman: harus mebuatkanku minuman jus selama seminggu. Karena memang mestinya kalau ada tamu haruslah dia yang menghidangkanku minuman, oh iya mungkin karena belum halal, jadi dia punya alasan untuk bersembunyi.

Setelah satu jam istirahat, acara lamaran pun digelar di ruang tamu. Aku dan keluargaku sudah berada di ruang tamu, demikian juga keluarga Nadia, terkecuali Nadia yang belum hadir. Sebelum pembicaraan dimulai, ibunya memanggilnya dan Nadia pun keluar dari kamarnya. Kulihat, masyaAllah, bukan main indahnya! Ciptaaan, Allah. Dia keluar dengan pakaian jilbaber, kerudung cokelat, tampak ayu! Photo cantik yang dia kirim dikalahkan dengan yang aslinya. Sekarang aku semakin mengakui kecantiakn gadis Jawa yang satu ini! Yang sebentar lagi bakal jadi istriku! Ibuku langsung berdiri, memeluk dan mencium kedua belah pipi Nadia calon menantunya, kulihat pipi Nadia mulai memerah, padahal ibuku tidak memakai lipstik. Entah karena malu atau sangkinkan putihnya, sepertinya disentuh angin pun akan memerah.

“Duhh, cantiknya kamu, Nak!” komentar kedua ibuku sewaktu mencium Nadia.
“Astagfirullah,” ucapku menyadarkan lamunanku karena menatap wajahnya. Bukan main indahnya! Tidak patut kusebutkan dan kugambarkan bentuk kecantikan perempuan shalihah yang jadi istriku ini, sehingga aku berpikir ingin menyuruhnya bercadar saja, agar aku tidak cemburu sepanjang waktu karena akan banyak lelaki yang memandang wajahnya!

“Kami rasa tidak perlu lagi acara khitbah, langsung saja menikah. Jadi keluarga dari mempelai laki-laki tidak repot lagi pulang-pergi ke Aceh.” Begitu saran terbaik keluarga Nadia.
“Kami senang dan setuju.” Sahut ibuku dengan segera.
“Tapi.., ada syarat,” Nadia angkat bicara. Duh bukan main merdunya kalimat “tapi” itu dari mulutnya, ini adalah kali pertama aku melihat dua belah bibirnya yang indah itu terbuka karena ia mulai bicara.
“Syarat apa , Dik?” tanyaku.
“Pertama, aku tidak mau dimadu, kedua aku ingin tetap tinggal di rumah ibuku, dan,” belum selesai Nadia bicara, ibu mencubitku dari samping saat dia dengar syarat kedua yang diajukan Nadia harus “tinggal di rumah ibunya” aku pun heran dengan syarat itu. Karena memang selama ini sengaja dirahasiakan Nadia, kalaulah syarat itu kutahu dan ibu juga tahu, mungkin amat sulit aku dan keluargaku bisa sampai di tanah Jawa ini.
“Syarat ketiga, bila aku dibawa ke Mesir, dan tinggal di sana minimal satu tahun, maka syarat kedua boleh dibicarakan di belakang hari.”
“Baiklah, aku terima syarat-syaratmu,” kataku. Kemudian ditentukanlah hari menikah kami sesegera mungkin. Empat hari setelah hari ini. Sampai di kamar ibuku pun mulai berkata.

“Tu kan, Musa, dia nggak mau dibawa ke Kuta cane, apa mamak bilang? Orang luar daerah susah melepas anaknya!”
“Tapi dia mau ke Kuta Cane nantinya kalau sudah kubawa ke Mesir, Mak.”
“Ya, semoga begitu, Nak.”
“Mak, cobalah jujur, Mamak benar-benar setuju kan kalau aku menikah dengan Nadia?”
“Hummm,”
“Jujurlah lah, Mak.”
“Awalnya Mak tidaklah setuju karena takut kehilanganmu di hari tua Mamak. Tapi, saat kamu menelepon ketika masih di Kairo dan Mak suruh pulang, itu hati Mak sudah terang. Ditambah lagi terangnya hati Mak saat tiba di rumah calon mertuamu ini, Musa. Apalagi saaat melihat wajah istrimu, belum pernah Mak lihat secantik Nadia di kampung kita! Beruntunglah kamu mendapatkannya, Nak.”
“Alhamdulillah, Allahamdullihi rabbil ‘aalamin., Makasih, Mak.” Aku peluk ibuku, aku sujud syukur mendengar komentar ketiga dari ibuku. Bukan main senangnya hatiku.

Hari itu aku merasa benar-benar merdeka. Kau tahu, Kawan? Merdeka bagiku adalah saat aku mampu menyakinkan ibuku, saat aku mampu merangkul dua pulau; Jawa dan Sumatera, saat kedua keluarga kami tidak lagi merasa asing dan berselisih soal adat dan suku, saat aku bisa menyatukan dua rasa; pedas dan manis. Merdeka itu adalah saat aku akhirnya menikah denganmu duhai kekasihku, istriku, Nadia.

Darrasah-Kairo Kamis, 2 Agustus 2018.



Tentang Penulis :


Nama lengkap Muhammad Daud Farma. Tempat dan tanggal lahir: Alur Langsat, 01 Oktober 1994. Desa Alur Langsat. Kec. Tanoh Alas. Kab. Aceh Tenggara. Almamater:  Pesantren Modern Dayah Perbatasan Darul Amin. Kuta Cane- Aceh Tenggara. Hingga saat ini masih menyandang status sebagai mahasiswa di kampus Universitas Al-Azhar. Kairo-Mesir. Pembaca dapat menghubungi penulis melalui: No whatsapp: +201011346855, akun instagram, @farma13Fan Page:  Cinta, Kamu Seorang Penulis, dan G-mail : ulviyeturk94@gmail.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pedas Manis 2 - Daud Farma"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.