Di Balik Seduhan Kopi Kawa Daun 2 - Rahmaleni




Tak putus asa, berbekal nilai lapor yang termasuk tinggi di kelasnya, ternyata pada suatu hari Nida jadi perwakilan sekolahnya untuk menghadiri ulang tahun toko buku ternama di tempat Nida Tinggal. Hari itu juga Nida membawa pulang beberapa voucher buku yang bisa diambil dari toko tersebut. Esoknya ia sudah kegirangan bisan membawa serta 20 buah buku yang ia incar-incar dari beberapa bulan yang lalu.

Di saat semua teman temannya bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas dari kedua orang tuanya, Nida sudah berpikir bagaimana menghasilkan uang jajan yang bisa dimanfaatkannya untuk mengikuti kursus bahasa perancis. Nida muda sudah membuat rancangan keuangannya sendiri yang ia rancang setiap akhir bulan. Baginya tak ada waktu yang sia sia untuk dikeluh kesahi. Nida giat belajat siang dan malam. Ada sejuta semangat positif yang membara tersimpang didalamnya.

Uang jajan yang pas pasan membuat Nida selalu menjadi sosok yang kreatif. Uang hasil juara lomba yang sering Nida ikuti, ia tabung untuk usaha kecil kecilan sendiri dari rumah. Akhirnya uang itu terkumpul sudah untuk membuka gerai mini booth coffee shop vintage. Kedai kopi mini ia dirikan di di salah satu area strategis di dekat pasar rumahnya. Booth vintage coffe shop miliknya didesain dengan warna coklat vintage. Utasan tali warna warni yang menjadi hiasan di atapnya, dengan slogan “life is too short if you don’t try our delicious coffee”.

Setiap pulang sekolah Nida selalu mengelola booth kopi bersama teman masa kecilnya, Mita. Jiwa bisnis Nida bergelora bagai titisan warisan dari sang Ayah. Nida dan Mita masih  butuh waktu untuk meriset citra rasa beberapa sampel kopi tradisional dan kopi brand luar.  Digerai mini booth coffee shopnya, Nida meracik ramuan special kopi tradisional yang dikemas menarik.Ia menjajakan kopi asli Gayo,Kopi Kawa Daun,Kopi Kintamani Bali dan beberapa varian kopi latte. Baginya sebagai anak muda mengenalkan kopi tradisional dan kopi varian luar menjadi keasyikan tersendiri baginya.  Nida tak putus asa untuk belajar dari Nol. Ia semangat untuk ikut kursus barista demi mempelajari setiitk ilmu cara meracik kopi.

Usaha kecil kecilan itu berhasil ia jalani dengan baik, omset yang ia dapat membuat Nida mampu untuk membiaya persiapan kuliahnya sendiri. Cita-cita Nida untuk mengambil jurusan e-commerce di ENS Paris membuatnya tak patah arang. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk meraihnya seperti sejarah terciptanya Kopi Kawa Daun. Nida mulai giat mencari informasi penting terkait dengan scholarship yang ditawarkan oleh Universitas tersebut. Uang yang ia tabung selama berbisnis kopi dan kosmetik berbahan mentah kopi yang ia pasarkan diline online shopnya lebih dari cukup dalam mengantarkan Nisa untuk mengurus Visa dan persiapan test IELTS. Persiapan demi persiapan yang mengantarkan banyak biaya, tak jauh dari planning yang sudah ia rancang sendiri. Hidup Nida memang tak semudah yang dibayangkan orang-orang. Namun baginya ada setetes kenikmatan tersendiri yang dirasa.

Perjalanan panjang dan kesabaran Nida berbuah hasil manis. Cita-cita nya sudah di depan mata. Pihak Universitas akhirnya mengumumkan hasil pengumuman beasiswa. Dan Nida adalah salah satu penerima beasiswa tesebut. Seusai  mendapat informasi tersebut ia tertegun sembari meneguk secangkir kopi chococino latte dibooth miliknya. “Akhirnya Tuhan mengambulkan satu dari beberapa mimpi yang hendak aku raih ....”Ada rasa manis,nikmat dan lepas dan bangga akan jerih payah yang ia usahakan sendiri.

Seperginya kuliah menuntut ilmu di negeri orang. Bisnis gerai coffee shopnya ia titipkan dengan Mita dan diambil alih oleh sang kakak. Nida percaya ini menjadi titik awal semangat juang yang tiada padam. Ia akan merindukan sosok Ibunya yang selama ini berjuang sendirian di tanah kelahirannya. Ya perjalanan menuju kota Perancis sudah di depan mata. Hari demi hari Nida sudah memasuki masa masa baru di kota Paris.

Beberapa tahun berlalu sejak itu....

Kini, namanya menjadi salah satu officer di badan UNDP bermarkas di kota Paris. Tak banyak yang tahu bagaimana perjuangan Nida meraih impiannya. Selepas ia kuliah di Paris, ia berhasil lulus recruitment pegawai badan dunia tersebut. Tetesan haru, bangga, dan sedih tercampur jadi satu. Baginya semua prestasi yang ia raih, menjadi hadiah yang ingin ia persembahkan untuk Ayahnya yang sudah lama tiada. “Ah ... andaikan Ayah masih ada” ujar nya sendu ketika mendapatkan surat tanda kelulusan.


Setapak demi setapak perjalanan panjang yang Nida lakukan sudah berbuah manis. Keputus-asaan baginya hanya menjadi penghalang seseorang untuk sukses. Kini jalan berliku panjang yang ia jalani satu persatu teruntai bagaikan sejarah unik terciptanya kopi Kawa Daun. Awalnya ketidak mampuan untuk memiliki biji kopi terlezat di zaman itu, tak membuat mati akal bagaimana menikmati citra rasa kopi. Meski tak mendapatkan kesempurnaan hidup, bagi Nida ada banyak cara untuk menikmati setiap tetes lezat perjuangan dalam meraih mimpi.

TAMAT

Biodata Penulis :

Penulis mencintai dunia menulis sejak kelas 2 SMP. Sejak kecil penulis menyukai novel dan cerpen. Tiada hari tanpa aktivitas membaca bagi penulis. Saat ini penulis aktif membuat karya karya cerpen selain bergelut di bidang blogger.

Ingin karyamu dimuat di sastraindonesia.org? Simak ketentuannya di sini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Di Balik Seduhan Kopi Kawa Daun 2 - Rahmaleni"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.